Pasangan
Pasti sering mendengar istilah soulmate! Masalahnya buat saya sekarang dari sekian banyak orang yang saya temui setiap harinya. Mm..kira-kira hampir..biar saya hitung, 4-5 anggota keluarga saya, 5 orang di angkot, satu orang bagian tiket, 20 orang di kereta, satu pemeriksa tiket, 12 orang di mikrolet, empat orang security dan 4-5 orang di lift, satu orang lagi security, 3-4 orang di kantor, dua office boy. Berarti 60 orang.
Enam puluh orang saya temui hingga senja menjelang. Bisa ditambah sekitar 50 orang lagi saat kepulangan. Setiap hari mulai Senin-Jumat, berarti selama seminggu kurang lebih saya bertemu 600 orang!! Tapi kenapa tidak ada satu pun di antaranya yang menjadi pasangan saya? Well, biar saya koreksi, mungkin kesalahan ada di pihak saya. Mungkin saya kurang menarik, mungkin juga saya selalu bermuka masam, tapi yang paling mungkin adalah saya selalu membaca buku selama perjalanan. Padahal mungkin di saat yang sama “soulmate” saya sedang CCP (Curi-Curi Pandang) tapi saya terlalu sibuk menatap sihir kata-kata. Bukankah setiap orang tidak “ngeh” dengan kesempatan yang begitu dekat? Atau terlalu takut dengan “kesempatan” itu sendiri? Karena kesempatan dekat dengan harapan, dan harapan bersahabat dengan kegagalan.
Tapi mencari pasangan memang bukan perkara window-shopping di mall, terlalu banyak filter yang manusia buat bagi sesamanya. Filter yang bertambah panjang seiring panjangnya usia dan kita seenaknya menyebut semua yang kita alami sebagai “pengalaman hidup” padahal banyak di antaranya hanya luka hati yang dengan sewajarnya kita biarkan tumbuh.
Pasangan tidak melulu yang melengkapi kita atau identik dengan kita. Pasangan buat saya, mmh apa ya? Well, jujur sampai hari ini pasangan buat saya adalah wadah sharing, tempat saya melampiaskan semangat yang meluap-luap atau mengalirkan cairan yang mengharu-biru, serta bank untuk segala atensi. Karena pastinya saya akan menuntut waktu, tenaga dan pikiran pasangan saya. Memaksa kedua mata, telinganya stand by 24 jam. Itu baru pasangan normal. Ada pasangan mulia yang memprioritaskan pengorbanan.
Saya sering kali merasa kesepian ini sudah akut, tapi usaha juga tiada menyembuhkan kadar akut itu, karena saya mulai jatuh cinta pada kesepian.
Pasangan seperti barang langka yang turun dari langit. Seperti kita yang merindukan kerlap-kerlip bintang namun terhalang cahaya lampu ciptaan kita sendiri. Atas nama protection, kita menghargai diri sendiri, sehingga tidak ada tempat bagi nama lain. Bahkan nama pasangan yang telah tertulis, tercipta untuk kita sejak 50.000 tahun lalu.
24/02/09
Thursday, April 16, 2009
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment