Thursday, April 16, 2009

Bilangan Fu dan Saya. Ada Cinta.

Bilangan Fu dan Saya. Ada Cinta.

Akhirnya sejak dua minggu lalu saya selesai membaca Bilangan Fu. Saya kecewa karena Parang Jati mati, karena kematiannya melegalkan nilai yang saya pegang. Bahwa nurani tidak punya suara di dunia nyata. Orang-orang yang mampu bertahan adalah orang-orang seperti Yuda yang skeptis dan sinis. Idealisme ala malaikat seperti Parang Jati hanya sebuah cara elegan untuk menyiksa diri lalu mati. Walaupun saya banyak belajar untuk menghormati sesama juga dari Parang Jati. Belajar teori abu-abu dan tidak ada hitam putih di dunia ini.

Senang sekali saat menemukan bahwa postmodernisme cukup mendapat tempat dalam novel ini. Karena sudah sejak enam bulan lalu atau bahkan lebih, sejak saya membaca buku-buku teori analisis wacana atau bahkan framing serta esai-esai nyinyir dari Om Seno dan Goenawan Mohammad, saya men-cap diri saya sebagai bagian dari “gank of postmodernism”. Pikiran-pikiran yang saya pegang selama ini seakan dijabarkan dengan gamblang dalam novel yang terbagi menjadi tiga bagian ini, yakni Modernisme, Monoteisme, dan Militerisme.

Apa yang saya pikirkan mengenai hubungan dengan Tuhan, kekuasaan, people I live with, and place I live in.

Suatu hari saya pernah bilang pada teman saya bahwa saya benci orang-orang militer karena mereka menurut saya cenderung sewenang-wenang dengan kekuasaan. Otot mereka lebih besar dari otak mereka. Lalu teman saya bilang saya naïf, saya berpendapat begitu karena saya tidak atau belum berkuasa, katanya. Mungkin ada benarnya juga. Namun selesai membaca novel ini ada perasaan lain terhadap militer, ada empati. Berbeda dengan saat selesai membaca novel Om Seno (Jazz, Perfume, and…), saat itu saya mengumpat militer. Rasanya seperti dikhianati kekasih yang protektif.

Selesai membaca Bilangan Fu, saran saya nonton The Lucky Ones. Bagi Anda pengumpat militer mungkin akan mendapat sudut pandang baru. Bukankah kita begitu dekat dengan istilah “kesempatan kedua” setelah lahir ke dunia yang terkontaminasi.

21/02/09

No comments: