Mungkin beberapa postingan saya ke depan akan terus menerus mengenai pasangan.
Tahukah anda? (opening ala artikel2 majalah)
Pasangan saya mendengarkan hands down-Dashboard Confessional. Saya menikmati you make me feel brand new-simply red yang menye-menye itu.
Dia dengan inisial “D” sangat lempeng dengan hidupnya, ngga neko-neko. Saya sangat complicated, mendetail membahas masalah, penasaran sama definisi siapa saya, self-obsessed.
Orang yang saya beri julukan K tersebut tidak aware dengan ponselnya. Saya tidak bisa jauh dari ponsel, bahkan mengecek apa ada yang salah kalau tidak ada sms masuk seharian.
Pria tambun itu aktif di jejaring sosial, ngasih komen ini itu, punya teman banyak. Lagi-lagi saya hanya punya teman kurang dari 5, punya jejaring sosial hanya untuk stalking perkembangan hidup orang-orang tanpa gairah meng-update (such a psycho indeed, well I call myself a born to be detective).
Drummer ini memprioritaskan kenyamanan dalam bekerja, saya kompensasi dan idealisme sebagai penulis.
Dia tidak berencana; saya hari ini bla bla bla mau ngapain, besok ngapain, wiken ngapain, seminggu ini pake baju bla bla bla, ribet juga sih saya.
He is a music maniac; I am a movie maniac.
He is an outdoor person, I always love living at my room: watching or reading.
Dia berbicara 500 kata per hari; saya 50.000 kata juga per hari.
Saya drama queen, mendayu-dayu saat ada kesulitan pacar tidak di tempat, dia: tidak menanyakan kabar, asik ngutak ngatik hp atau ngopi lagu baru.
Mari kita percaya Tuhan itu adil dan telah menciptakan manusia berpasangan-pasangan sesuai jodoh yang tertulis dalam buku 50.000 tahun lalu itu. Tidak selalu pasangan yang kita inginkan memang, tapi dia yang terbaik yang dipilihkan Tuhan untuk saya. Bisa dibilang, buat dia: saya itu menyebalkan, buat saya: dia sama menyebalkan.Walaupun dia dan saya berbeda kutub, semoga ada satu titik yang selalu merekatkan. Seperti pasangan ini:
Satu sketsa yang saya ambil dari blog sang istri:
Sambil bebenah, seperti biasa.. Faz kan orangnya butuh pengakuan, butuh pernyataan, sedangkan saya orangnya dataar, lempeeng, bahagia atau sedih cuma dalem diri saya yang tau.. makanya Bebi nanya "Seneng gaa udah jadi ke Benoa? Udah main watersport?". "Iya seneng". "Ga boleh gitu doang jawabnyaaa.. " "Oiyaaa.. seneng banget bebiiihh makasihh yaa udah mau ke Benoa trus bayarin kita main-main."
"Love you"
"Love you too"
(dikutip dari karasanten blog, note: kar, izin mengutip ya, mendapat inspirasi dari blog-mu )
Biasanya saya tidak mempersembahkan tulisan, tapi tulisan ini saya peruntukkan kepada pria yang tidak selalu di samping nan saya suka dan teman saya yang bernama MALAIKAT, yang akan menikah Januari mendatang, happy married!
Wednesday, December 15, 2010
Tuesday, December 14, 2010
Telan bulat-bulat.
Hmm..pagi saya sudah berjalan satu setengah jam. Tapi aktivitas saya tidak lebih dari sekedar stalking his life, her life, your life and their life. Sepertinya hidup saya memang banyak habis untuk stalking, selebihnya menghibur diri dan bekerja.
Hmm saya mau cerita apa ya..terlalu campur aduk pagi ini, mulai dari posisi duduk di bus yang menyulitkan, hidung yang mampet, sampai menemui bahwa anda di-block oleh seorang follower. Saya menyesal sekali mengetahui itu, entah saya baru menyadari bahwa saya di-block atau sudah lama atau apapun tetap membuat saya menurun.
Yah, tapi udah terjadi, telan saja.
Apakah anda belajar dari pengalaman? Saya belajar dari film; belajar apa yang saya mau, belajar siapa saya, belajar seperti apa lingkungan saya. Sayang, belum bisa belajar siapa pasangan saya dari situ. Dan saya tetap bertanya-tanya kenapa, kenapa berpasangan, kenapa tidak cukup dengan keluarga yang hiruk pikuk. Saya hanya mau keluarkan keluhan tanpa balasan.
Sulit sekali fokus pada passion di saat-saat seperti ini. Bekerja saja terus seperti robot juga bukan ide yang baik. Maka telan bulat-bulat sambil terus mengingat wajah orang yang mem-block anda dan apa saja perlakuan dia ke anda, mungkin akan memberi ide apa yang akan anda lakukan pada orang itu, dan hiburan apa yang pantas anda terima.
Hmm saya mau cerita apa ya..terlalu campur aduk pagi ini, mulai dari posisi duduk di bus yang menyulitkan, hidung yang mampet, sampai menemui bahwa anda di-block oleh seorang follower. Saya menyesal sekali mengetahui itu, entah saya baru menyadari bahwa saya di-block atau sudah lama atau apapun tetap membuat saya menurun.
Yah, tapi udah terjadi, telan saja.
Apakah anda belajar dari pengalaman? Saya belajar dari film; belajar apa yang saya mau, belajar siapa saya, belajar seperti apa lingkungan saya. Sayang, belum bisa belajar siapa pasangan saya dari situ. Dan saya tetap bertanya-tanya kenapa, kenapa berpasangan, kenapa tidak cukup dengan keluarga yang hiruk pikuk. Saya hanya mau keluarkan keluhan tanpa balasan.
Sulit sekali fokus pada passion di saat-saat seperti ini. Bekerja saja terus seperti robot juga bukan ide yang baik. Maka telan bulat-bulat sambil terus mengingat wajah orang yang mem-block anda dan apa saja perlakuan dia ke anda, mungkin akan memberi ide apa yang akan anda lakukan pada orang itu, dan hiburan apa yang pantas anda terima.
Monday, November 29, 2010
No Beer for You Dear
(Asyik ya judulnya? Hehe I wish I could play guitar, bikin lagu dengan judul di atas. Ahoy!)
Kamu tahu apa obat stress buat orang-orang yang dilarang menenggak bir atau minuman beralkohol lainnya? We’re dancing. Nope.
Pertama kita akan ngomong sendiri, ngeluh ini ngeluh itu. Saat stress tidak juga hilang, lalu kita mulai buka-buka playlist. Bosan dengan tune yang sama, kita akan streaming dengerin radio, denger lagu-lagu baru, ikut menyumpah serapah saat lagunya menuturkan lirik kasar.
Jango, si internet radio, membuat saya berkhayal memiliki pacar dengan nama yang sama. Seperti apa rupanya? Nanti dulu saya sedang memikirkan bagaimana saya akan memanggilnya: Jeng? Nggo? Go? Jenggo?. Ahh ngga enak ya. Penampilannya? Jelas dia akan memakai kemeja flannel dengan dua kancing dibuka di bagian atas. Bagian lengan dilipat asal. Jeans belel sobek-sobek, sepatu boots coklat butek. Dan dia akan jemput saya pulang kantor naik motor gede, manggil saya dari kejauhan dengan “Hai beib” sambil buang sisa rokoknya menyalakan mesin motor. Haha!
Gila memang khayalan saya. Tapi mungkin efeknya jauh lebih mujarab untuk stress daripada bir atau wine di pagi hari yang bikin kita hangover sepanjang hari.
Kalau ditanya apa saya tidak penasaran dengan efek si bir? Tentu saya penasaran, tetapi sungguh saya menikmati khayalan-khayalan yang didasari keinginan saya mengenal bir lebih jauh. Halo B.I.R, kenalkan saya N.Y.D.A, pengkhayal, apakah kamu pemabuk? senyum kecil semuaaaa!
Kamu tahu apa obat stress buat orang-orang yang dilarang menenggak bir atau minuman beralkohol lainnya? We’re dancing. Nope.
Pertama kita akan ngomong sendiri, ngeluh ini ngeluh itu. Saat stress tidak juga hilang, lalu kita mulai buka-buka playlist. Bosan dengan tune yang sama, kita akan streaming dengerin radio, denger lagu-lagu baru, ikut menyumpah serapah saat lagunya menuturkan lirik kasar.
Jango, si internet radio, membuat saya berkhayal memiliki pacar dengan nama yang sama. Seperti apa rupanya? Nanti dulu saya sedang memikirkan bagaimana saya akan memanggilnya: Jeng? Nggo? Go? Jenggo?. Ahh ngga enak ya. Penampilannya? Jelas dia akan memakai kemeja flannel dengan dua kancing dibuka di bagian atas. Bagian lengan dilipat asal. Jeans belel sobek-sobek, sepatu boots coklat butek. Dan dia akan jemput saya pulang kantor naik motor gede, manggil saya dari kejauhan dengan “Hai beib” sambil buang sisa rokoknya menyalakan mesin motor. Haha!
Gila memang khayalan saya. Tapi mungkin efeknya jauh lebih mujarab untuk stress daripada bir atau wine di pagi hari yang bikin kita hangover sepanjang hari.
Kalau ditanya apa saya tidak penasaran dengan efek si bir? Tentu saya penasaran, tetapi sungguh saya menikmati khayalan-khayalan yang didasari keinginan saya mengenal bir lebih jauh. Halo B.I.R, kenalkan saya N.Y.D.A, pengkhayal, apakah kamu pemabuk? senyum kecil semuaaaa!
Thursday, November 25, 2010
Ilmu Tinggi, Penyerapan dan Penerapannya
Tadi saya mendapat pemandangan yang menggelitik untuk ditulis. Seorang wanita berjilbab membawa Al-Quran dan mengkaji terjemahannya di bus. Yang menggelitik bukan aktivitasnya, tetapi caranya berpakaian. Bajunya transparan di sepanjang lengan dan longgar di bagian bawah, jadi sedikit saja bergerak atau mengangkat tangan pasti si lengan baju akan melorot hingga siku. Padahal itu termasuk bagian aurat. Saya berusaha positive thinking mungkin dia muallaf, baru belajar jadi belum tahu hukum-hukumnya.
Saya pun berpikir lebih panjang lagi, sudah bukan hal umum sepertinya orang berilmu hanya menjadikan ilmu sebagai ilmu, hakim belajar hukum tetapi ada juga yang masih menyelewengkan wewenangnya, wakil rakyat tahu hak dan kewajibannya tetapi ada juga yang melalaikannya, wanita berjilbab tahu mana yang halal dan yang tidak halal untuk diperlihatkan pada bukan muhrimnya tapi tidak bisa menetapi. Semua ilmu yang jauh-jauh dicari, mahal-mahal dibeli, susah-susah dilafalkan setiap malam hanya sekedar menjadi pengetahuan, diserap bukan untuk diterapkan.
Memang manusia tempatnya salah dan dosa, tapi bukankan selalu ada kesempatan untuk memperbaiki diri? Haaah saya jadi serius dan menggurui gitu ya disini.
Saya sendiri sebenarnya masih belum menerapkan ilmu, salah satunya ikhlas dan bersabar, tadi pagi saya dorong pengamen yang nyanyi ngga bisa diam sambil joget-joget, walhasil beberapa bagian tubuhnya seperti pantat dan tangan beberapa kali menyenggol tubuh saya. Tanpa banyak bicara pun saya dorong tubuhnya. Dia ngomel-ngomel panjang berulang kali, saya tetap dorong dan tidak mendengar satu pun perkataannya dengan jelas: diselamatkan oleh dentuman blackout dari linkin park yang liriknya sangat pas mewakili isi hati si pengamen saya rasa, simak penggalan berikut:
Fuck it, are you listening?
-berjilbab tapi masih belum bisa ngerem bicara kasar: itu saya
Saya pun berpikir lebih panjang lagi, sudah bukan hal umum sepertinya orang berilmu hanya menjadikan ilmu sebagai ilmu, hakim belajar hukum tetapi ada juga yang masih menyelewengkan wewenangnya, wakil rakyat tahu hak dan kewajibannya tetapi ada juga yang melalaikannya, wanita berjilbab tahu mana yang halal dan yang tidak halal untuk diperlihatkan pada bukan muhrimnya tapi tidak bisa menetapi. Semua ilmu yang jauh-jauh dicari, mahal-mahal dibeli, susah-susah dilafalkan setiap malam hanya sekedar menjadi pengetahuan, diserap bukan untuk diterapkan.
Memang manusia tempatnya salah dan dosa, tapi bukankan selalu ada kesempatan untuk memperbaiki diri? Haaah saya jadi serius dan menggurui gitu ya disini.
Saya sendiri sebenarnya masih belum menerapkan ilmu, salah satunya ikhlas dan bersabar, tadi pagi saya dorong pengamen yang nyanyi ngga bisa diam sambil joget-joget, walhasil beberapa bagian tubuhnya seperti pantat dan tangan beberapa kali menyenggol tubuh saya. Tanpa banyak bicara pun saya dorong tubuhnya. Dia ngomel-ngomel panjang berulang kali, saya tetap dorong dan tidak mendengar satu pun perkataannya dengan jelas: diselamatkan oleh dentuman blackout dari linkin park yang liriknya sangat pas mewakili isi hati si pengamen saya rasa, simak penggalan berikut:
Fuck it, are you listening?
-berjilbab tapi masih belum bisa ngerem bicara kasar: itu saya
Sunday, September 26, 2010
The Experiment
Abis nonton The Experiment, which is merupakan remake dari film Das Experiment, film thriller psikologis Jerman. Setelah nonton film ini, benar-benar membuka mata bahwa manusia itu dikasih akal tapi kadang terperdaya juga dengan emosi yang dimilikinya. Cerita dimulai dari sebuah lowongan kerja yang tertera di koran. Disana tertulis pekerjaan untuk sebuah behavioral experiment dengan gaji $1000 per hari dan mereka yang terpilih akan menjadi objek percobaan itu selama dua pekan. Tidak disebutkan disana eksperimen apa yang dimaksud, begitu juga saat wawancara pemilihan calon objek dilakukan.
Mereka hanya ditanyakan tentang objek-objek umum seperti agama serta pandangan-pandangan mereka mengenai segala macam hal misalnya keadilan. Adrien Brody yang terlihat cool di film The Brothers Bloom yang pernah dimainkannya bersama Rachel Weisz, disini tambah bikin saya terpukau. Dia memainkan tokoh Travis, yang lurus dan sebelumnya bekerja part time di rumah pensiunan, mengurus orang-orang lanjut usia. Karena ingin menyusul pacarnya ke India, dia membutuhkan uang cash cepat, dan behavioral experiment ini, menjawab keinginannya.
Singkat cerita, Travis yang lurus dan rasional lolos seleksi. Cerita berlanjut dengan terpilihnya 26 pria dengan latar belakang berbeda. Mereka dibawa ke sebuah penjara tak terpakai untuk melakukan eksperimen. Ke-26 orang tersebut dibagi menjadi dua, sekitar delapan orang terpilih sebagai sipir penjara dan sisanya sebagai tahanan. Aturan diberikan. Peran dimainkan.
Dan konflik dimulai saat salah seorang sipir secara tidak sengaja terkena lemparan bola salah satu tahanan. Situasi yang dirancang sedemikian rupa dimana sipir merasa memiliki kekuasaan, mendorong mereka untuk memanfaatkan kekuasaan itu. Ternyata memang kekuasaan membuat orang jadi gila. Gila kuasa. Gila menindas.
Forest Whitaker sebagai Barris yang berusia 42 tahun dan masih tinggal bersama orang tuanya merasa peran sipir yang dimainkan olehnya telah merubah kenyataan bahwa dirinya hanya sekedar tua bangka yang masih tinggal bersama ibunya dan selalu dipanggil chickenshit, tanpa memiliki rasa kebanggaan apapun. Jadilah peran sipir membuatnya kalap. Dia mendramatisir segala sesuatu yang dilakukan oleh tahanan.
Pertama para sipir menyuruh tahanan untuk push up sebagai hukuman. Tetapi Barris yang diperbudak kekuasaan mulai mempraktikkan ide-ide gilanya salah satunya dengan menakut-nakuti tahanan. Berawal dari kebenciannya terhadap Travis yang tidak takut sama sekali terhadap Barris bahkan mempermalukan Barris di depan tahanan dan kawan-kawan sipir lainnya. Barris lalu mulai melakukan tindakan kekerasan yang sebenarnya dilarang untuk dilakukan dalam eksperimen ini.
Barris bersama sipir lain mengeroyok Travis, mengencinginya, membenamkan Travis dalam toilet yang belum di-flush (pas bagian ini saya mual sumpah). Barris juga tidak segan untuk menghukum siapapun yang membangkang. Dia tidak juga menaruh rasa kasihan pada Benjey salah satu tahanan yang menderita diabetes dan membutuhkan insulin. Barris menolak memberikannya insulin hingga akhirnya Benjey mati dan perlawanan dimulai.
Kesabaran Travis habis, kesabaran para tahanan habis kepada para sipir palsu yang berlagak sungguhan. Di bawah pimpinan Travis mereka memberontak. Pertempuran sengit berlangsung. Dan kondisi berubah 180 derajat. Para sipir yang jumlahnya lebih sedikit kini bertekuk lutut di bawah tahanan yang jumlahnya lebih banyak.
Lima hari bermain peran, beragam kejadian mencekam terjadi. Sipir memperkosa tahanan. Sipir mengeroyok sesama sipir. Tahanan dikurung dalam ruang gelap. Tahanan tidak diberi makan. Tahanan dipukuli.
Pertempuran ini mengakhiri peran yang mereka mainkan, gerbang penjara dibuka. Eksperimen berakhir.
Menonton film ini, membuat saya sadar bahwa:
1. Siapapun yang melakukan atau mendanai eksperimen itu sudah gila
2. Kekuasaan dalam bentuk apapun “drive people crazy” even just in a roleplay
3. Kemanusiaan selalu punya tempat
4. Dalam kekerasan, korban akan selalu lahir, bukan penyelesaian
5. Dan kebenaran akan berontak dengan caranya, mencari tempat
6. Manusia tidak bisa diukur, tidak dengan tato yang menempel di tubuhnya, tidak dengan jawaban yang keluar dari mulutnya, tidak dengan pandangan matanya, tidak dengan perilakunya, tidak dengan teori-teori psikologis. Manusia tidak terukur, dia dinamis, dia berubah, menyesuaikan diri dengan lingkungan, menempa diri dengan ujian, dan tanpa teori, mereka selalu bisa belajar. Manusia selalu bisa menyelesaikan, saat ia memakai akal, memandang ke dalam hati, mempertanyakan diri sendiri
Dalam film itu ada satu scene yang membuat saya tersenyum, saat dimana Travis sedang diwawancara Dr. Archalata sang psikologis, saat sedang ditanya soal justice.
Travis hanya menjawab: Justice is, it starts wars. An eye for an eye.
Saya tidak memancing perbedaan pendapat disini, semua pendapat selalu ada benarnya dalam terminologinya masing-masing, situasi yang dialami dan manusia yang terlibat di dalamnya.
Entah kenapa saat Travis menjawab itu, I slightly whispered: You’re genius Travis.
Travis yang suka nonton discovery channel, yang melayani orang-orang jompo, menemani mereka bermain, mengingatkan mereka minum obat, bercita-cita menyusul pacarnya ke India. Walaupun pengangguran dan tidak bergelar, dia jauh lebih jenius dari psikolog Dr. Archalata.
Mereka hanya ditanyakan tentang objek-objek umum seperti agama serta pandangan-pandangan mereka mengenai segala macam hal misalnya keadilan. Adrien Brody yang terlihat cool di film The Brothers Bloom yang pernah dimainkannya bersama Rachel Weisz, disini tambah bikin saya terpukau. Dia memainkan tokoh Travis, yang lurus dan sebelumnya bekerja part time di rumah pensiunan, mengurus orang-orang lanjut usia. Karena ingin menyusul pacarnya ke India, dia membutuhkan uang cash cepat, dan behavioral experiment ini, menjawab keinginannya.
Singkat cerita, Travis yang lurus dan rasional lolos seleksi. Cerita berlanjut dengan terpilihnya 26 pria dengan latar belakang berbeda. Mereka dibawa ke sebuah penjara tak terpakai untuk melakukan eksperimen. Ke-26 orang tersebut dibagi menjadi dua, sekitar delapan orang terpilih sebagai sipir penjara dan sisanya sebagai tahanan. Aturan diberikan. Peran dimainkan.
Dan konflik dimulai saat salah seorang sipir secara tidak sengaja terkena lemparan bola salah satu tahanan. Situasi yang dirancang sedemikian rupa dimana sipir merasa memiliki kekuasaan, mendorong mereka untuk memanfaatkan kekuasaan itu. Ternyata memang kekuasaan membuat orang jadi gila. Gila kuasa. Gila menindas.
Forest Whitaker sebagai Barris yang berusia 42 tahun dan masih tinggal bersama orang tuanya merasa peran sipir yang dimainkan olehnya telah merubah kenyataan bahwa dirinya hanya sekedar tua bangka yang masih tinggal bersama ibunya dan selalu dipanggil chickenshit, tanpa memiliki rasa kebanggaan apapun. Jadilah peran sipir membuatnya kalap. Dia mendramatisir segala sesuatu yang dilakukan oleh tahanan.
Pertama para sipir menyuruh tahanan untuk push up sebagai hukuman. Tetapi Barris yang diperbudak kekuasaan mulai mempraktikkan ide-ide gilanya salah satunya dengan menakut-nakuti tahanan. Berawal dari kebenciannya terhadap Travis yang tidak takut sama sekali terhadap Barris bahkan mempermalukan Barris di depan tahanan dan kawan-kawan sipir lainnya. Barris lalu mulai melakukan tindakan kekerasan yang sebenarnya dilarang untuk dilakukan dalam eksperimen ini.
Barris bersama sipir lain mengeroyok Travis, mengencinginya, membenamkan Travis dalam toilet yang belum di-flush (pas bagian ini saya mual sumpah). Barris juga tidak segan untuk menghukum siapapun yang membangkang. Dia tidak juga menaruh rasa kasihan pada Benjey salah satu tahanan yang menderita diabetes dan membutuhkan insulin. Barris menolak memberikannya insulin hingga akhirnya Benjey mati dan perlawanan dimulai.
Kesabaran Travis habis, kesabaran para tahanan habis kepada para sipir palsu yang berlagak sungguhan. Di bawah pimpinan Travis mereka memberontak. Pertempuran sengit berlangsung. Dan kondisi berubah 180 derajat. Para sipir yang jumlahnya lebih sedikit kini bertekuk lutut di bawah tahanan yang jumlahnya lebih banyak.
Lima hari bermain peran, beragam kejadian mencekam terjadi. Sipir memperkosa tahanan. Sipir mengeroyok sesama sipir. Tahanan dikurung dalam ruang gelap. Tahanan tidak diberi makan. Tahanan dipukuli.
Pertempuran ini mengakhiri peran yang mereka mainkan, gerbang penjara dibuka. Eksperimen berakhir.
Menonton film ini, membuat saya sadar bahwa:
1. Siapapun yang melakukan atau mendanai eksperimen itu sudah gila
2. Kekuasaan dalam bentuk apapun “drive people crazy” even just in a roleplay
3. Kemanusiaan selalu punya tempat
4. Dalam kekerasan, korban akan selalu lahir, bukan penyelesaian
5. Dan kebenaran akan berontak dengan caranya, mencari tempat
6. Manusia tidak bisa diukur, tidak dengan tato yang menempel di tubuhnya, tidak dengan jawaban yang keluar dari mulutnya, tidak dengan pandangan matanya, tidak dengan perilakunya, tidak dengan teori-teori psikologis. Manusia tidak terukur, dia dinamis, dia berubah, menyesuaikan diri dengan lingkungan, menempa diri dengan ujian, dan tanpa teori, mereka selalu bisa belajar. Manusia selalu bisa menyelesaikan, saat ia memakai akal, memandang ke dalam hati, mempertanyakan diri sendiri
Dalam film itu ada satu scene yang membuat saya tersenyum, saat dimana Travis sedang diwawancara Dr. Archalata sang psikologis, saat sedang ditanya soal justice.
Travis hanya menjawab: Justice is, it starts wars. An eye for an eye.
Saya tidak memancing perbedaan pendapat disini, semua pendapat selalu ada benarnya dalam terminologinya masing-masing, situasi yang dialami dan manusia yang terlibat di dalamnya.
Entah kenapa saat Travis menjawab itu, I slightly whispered: You’re genius Travis.
Travis yang suka nonton discovery channel, yang melayani orang-orang jompo, menemani mereka bermain, mengingatkan mereka minum obat, bercita-cita menyusul pacarnya ke India. Walaupun pengangguran dan tidak bergelar, dia jauh lebih jenius dari psikolog Dr. Archalata.
Tuesday, September 21, 2010
Manner? Matter!
manner:
a person's outward bearing; way of speaking to and treating others: She has a charming manner.
Apakah saya tidak punya good manner? Relatif.
Saya tinggal di Indonesia, tetapi manner saya jelas berbeda di antara sesama orang Indonesia, perhatikan juga usia. Perhatikan lagi gender. Yang paling penting perhatikan situasi. Karena saat sedang tidak mood, Nyda Aulia tidak peduli manner! Indikasi tidak mood? Ada segala sesuatu di luar plan.
Saya tidak akan bilang ya, kalau ada yang memberi makanan di saat saya sedang fokus dengan pekerjaan, atau saya tidak suka makanan itu. Atau yah, sebenarnya semuanya tergantung situasi. Kalau saya sedang mood, ya saya terima dan makan, karena pada dasarnya saya tidak suka membuang makanan. Tapi kalau sedang tidak mood, saya akan tolak apapun itu, termasuk makanan, so please everybody jangan bilang saya ngga tahu terima kasih, menolak rezeki atau apapun. Saya hanya perlu waktu untuk meluruskan mood.
The way I talk? I just love talking straight to the point, straight to its meaning, then I can go back to my work. Exception to one person and my family and people I decide.
Treating others? I treat others the way they treat me and since I avoid conflicts, I just being silent to whom I don’t like.
That's all! Argh!
a person's outward bearing; way of speaking to and treating others: She has a charming manner.
Apakah saya tidak punya good manner? Relatif.
Saya tinggal di Indonesia, tetapi manner saya jelas berbeda di antara sesama orang Indonesia, perhatikan juga usia. Perhatikan lagi gender. Yang paling penting perhatikan situasi. Karena saat sedang tidak mood, Nyda Aulia tidak peduli manner! Indikasi tidak mood? Ada segala sesuatu di luar plan.
Saya tidak akan bilang ya, kalau ada yang memberi makanan di saat saya sedang fokus dengan pekerjaan, atau saya tidak suka makanan itu. Atau yah, sebenarnya semuanya tergantung situasi. Kalau saya sedang mood, ya saya terima dan makan, karena pada dasarnya saya tidak suka membuang makanan. Tapi kalau sedang tidak mood, saya akan tolak apapun itu, termasuk makanan, so please everybody jangan bilang saya ngga tahu terima kasih, menolak rezeki atau apapun. Saya hanya perlu waktu untuk meluruskan mood.
The way I talk? I just love talking straight to the point, straight to its meaning, then I can go back to my work. Exception to one person and my family and people I decide.
Treating others? I treat others the way they treat me and since I avoid conflicts, I just being silent to whom I don’t like.
That's all! Argh!
Tuesday, August 24, 2010
Membaca Figur
Mungkin memang tidak semua orang memiliki keahlian yang saya miliki. Well, belum tentu ini sebuah keahlian juga sih. Ok, mari kita coba: Apa yang Anda pikirkan saat melihat ada penjual remote pinggir jalan paruh baya melayani pembeli yang merupakan seorang pegawai swasta rendahan yang sama paruh baya?
Saat melihat pemandangan itu, di kepala saya terbersit kalau waktu cepat sekali berjalan. Hingga usia paruh baya, penjual remote dan pegawai swasta rendahan belum sempat mengumpulkan uang untuk dinikmati di hari tua, atau mungkin harta simpanan tidak cukup tertib dijaga, jadi raib sebelum dinikmati di usia senja.
Mungkin juga semua pemikiran yang berseliweran tadi salah semua.
Walaupun tidak selancar Temple Grandin, sebagai orang visual, saya menikmati perjalanan pulang pergi ke kantor. Saya merekam setiap gerakan, pakaian yang melekat, bentuk dan kejadian. Sambil merekam, serangkaian ide ini itu berseliweran, menyimpulkan profesi, sifat, minat kecenderungan bahkan nasib dari masing-masing objek yang saya nikmati.
Sangat subjektif memang. Tapi saya menikmati aktivitas rutin itu.
Mungkin kalau Anda hadir di hadapan saya sekarang, saya dapat membaca figur seperti apa seorang Anda.
Saat melihat pemandangan itu, di kepala saya terbersit kalau waktu cepat sekali berjalan. Hingga usia paruh baya, penjual remote dan pegawai swasta rendahan belum sempat mengumpulkan uang untuk dinikmati di hari tua, atau mungkin harta simpanan tidak cukup tertib dijaga, jadi raib sebelum dinikmati di usia senja.
Mungkin juga semua pemikiran yang berseliweran tadi salah semua.
Walaupun tidak selancar Temple Grandin, sebagai orang visual, saya menikmati perjalanan pulang pergi ke kantor. Saya merekam setiap gerakan, pakaian yang melekat, bentuk dan kejadian. Sambil merekam, serangkaian ide ini itu berseliweran, menyimpulkan profesi, sifat, minat kecenderungan bahkan nasib dari masing-masing objek yang saya nikmati.
Sangat subjektif memang. Tapi saya menikmati aktivitas rutin itu.
Mungkin kalau Anda hadir di hadapan saya sekarang, saya dapat membaca figur seperti apa seorang Anda.
Subscribe to:
Posts (Atom)