Review Ciao Italia!
Pendapat saya tentang Italia sebelum membaca buku ini adalah sebuah negara yang penuh drama bukan hanya karena kekejaman para Mafioso-nya tetapi juga kisah percintaan para penghuninya. Sebelumnya saya pernah membaca sebuah buku berjudul La Cucina, background-nya Italia, tokohnya seorang gadis asal Sicilia. Dari buku tersebutlah saya tahu sedikit banyak tentang Italia, namun mayoritas dari sisi kuliner-nya. Maka benar-lah adanya istilah la dolce vita dalam buku Ciao Italia ini, orang Italia memiliki gaya hidup sendiri, yang penuh kesenangan dan kemewahan, sama seperti dalam buku La Cucina.
Sebelum membaca Ciao Italia, yang saya kagumi dari negeri ini adalah fashion-nya, namun ternyata ada banyak hal yang dapat dikagumi dari negeri ini. Seolah-olah negeri ini benar-benar mengerti bagaimana cara menjalani hidup dan memanfaatkannya.
Kekaguman saya berawal saat membaca bagian “When in Rome…”, saya seakan terbawa melintas di zona Trastevere, membayangkan keindahan Roma yang terbelah sungai. Belum lagi membayangkan diri memandang panorama Roma dari rooftop museum militer sambil ngopi atau menikmati kehidupan ala slow city di Orvieto serta menikmati keindahan Venezia sambil naik gondola.
Setelah membaca buku ini Italia buat saya adalah sebuah keajaiban dunia itu sendiri, mulai dari bangunan-bangunan antiknya, cita rasa makanannya, cara berpikir penghuninya, semuanya terangkum meninggalkan kesan tersendiri bagi para pengunjungnya. Jelas buat saya pribadi, setelah membaca buku ini, salah satu dalam list must to do in my lifetime adalah menantikan dan berusaha mencari peluang untuk membuktikan tempat-tempat istimewa yang tertulis dalam buku ini dengan mata kepala sendiri, seperti ber-passeggiata di piazza ala Italians sambil makan gelato. Hmmmh…
Italia dalam buku ini jelas tempatnya bersenang-senang, tempat makan sebanyak-nya, memanjakan mata dengan panoramanya, berpesta setiap malam, ngopi-ngopi sepuasnya, juga menikmati musik jazz di Umbria!
Namun, apa yang paling berkesan buat saya saat membaca Ciao Italia ada dua, pertama Naples dan kedua ide Slow Food dan Slow City. Well, kalau diminta memilih satu, saya pilih ide Slow Food dan Slow City. Alasannya kenapa? Pertama karena ide ini begitu brilian, sesuai dengan definisi “menikmati hidup” ala saya. Hidup dimana yang menjadi prioritas adalah kenyamanan itu sendiri, bukan kenyamanan yang diukur dari segi materi tapi kenyamanan dalam bentuk mengekspresikan diri, berbagi kepedulian dengan sesama, mencari esensi dari eksistensi kita hidup di dunia. Bukankah hidup ini terlalu indah untuk sekedar dilewatkan dengan rutinitas mengejar materi?
Well, at last, sukses selalu dan terima kasih untuk sang penulis, Gama Harjono, karena telah berbagi dengan saya tentang keunikan Italia dalam buku ini! Thanks for every detail you share!
No comments:
Post a Comment