Hisap Aku atau Kau yang Kuhisap!
Aku cuma memperhatikan saja, cukup memperhatikan saja dari jarak setengah meter. Tapi aku tahu aku sangat menginginkannya, seinginnya aku untuk bercinta. Aku sangat menginginkannya menyentuh bibirku dan bukan hanya menginginkan manis yang pernah kukecup, aku ingin merasakan batuk dan panasnya. Tanpa memberi waktu lebih lama lagi untuk berpikir, aku menyenggolnya.
Aku cuma memperhatikan saja, cukup memperhatikan saja dari jarak setengah meter. Tapi aku tahu aku sangat menginginkannya, seinginnya aku untuk bercinta. Aku sangat menginginkannya menyentuh bibirku dan bukan hanya menginginkan manis yang pernah kukecup, aku ingin merasakan batuk dan panasnya. Tanpa memberi waktu lebih lama lagi untuk berpikir, aku menyenggolnya.
“Buat gue, ya?” Kalimat ini sedari tadi telah kususun, namun hanya ini yang dengan sempurna keluar.
“Apaan sih?” tanyanya berbalik.
“Yang di tangan lo, buat gue ya, gue beli deh!” dengan paksa aku memintanya menyerahkannya.
“Rumah lo dimana sih?” pertanyaannya menjadi kurang masuk akal.
“Bumi Indah.” Singkat balasku.
“Bumi Indah Lama?”
“Bukan, di deket situ!”
“Yang di tangan lo, buat gue ya, gue beli deh!” dengan paksa aku memintanya menyerahkannya.
“Rumah lo dimana sih?” pertanyaannya menjadi kurang masuk akal.
“Bumi Indah.” Singkat balasku.
“Bumi Indah Lama?”
“Bukan, di deket situ!”
Dengan sigap dia memindahkannya ke tanganku. Aku pun siap memegangnya, menerima agar jangan sampai jatuh dan secepat mungkin supaya sekiranya tidak ada orang lain yang melihat.
“Makasih banyak ya!” akhirnya aku berusaha terlihat normal, walaupun sebenarnya tanganku bergetar, mataku beredar di jendela menjauhi pandangan orang-orang.
“Yo, sorry ngga ada yang baru!” dia pun terdengar normal.
“Ngga apa-apa, makasih banget ya!”
“Makasih banyak ya!” akhirnya aku berusaha terlihat normal, walaupun sebenarnya tanganku bergetar, mataku beredar di jendela menjauhi pandangan orang-orang.
“Yo, sorry ngga ada yang baru!” dia pun terdengar normal.
“Ngga apa-apa, makasih banget ya!”
Dia menengok ke arahku dan mataku tetap tidak lepas dari pemandangan di luar. Untuk sekedar memastikan, kuedarkan pandanganku ke sekeliling. Semua juga tampak berusaha ‘normal’. Entah mereka menyadari atau tidak ‘transaksi’ yang baru saja berlangsung.
Aku tetap menggenggamnya di tanganku, tidak terlalu erat memang karena aku takut membuatnya patah. Susah payah aku mengumpulkan mental untuk mendapatkannya. Sakit!
Dia turun dari angkutan umum dan lagi-lagi aku mengucapkan terima kasih. Terlalu banyak memang. Lalu dengan sigap tanganku masuk ke dalam tas, dengan alibi mencari-cari uang buat bayar angkos, aku meletakkannya dengan aman di dompet kecil.
Tidak lama aku pun turun. Kali ini sambil memeras otak memikirkan bagaimana cara mendapatkan pasangannya. Setelah berpikir keras, akhirnya aku berhenti di depan warung dekat rumah, menunggu pelanggan yang lain. Aku sangat bersyukur yang melayani hanya seorang anak kecil, dia tidak mungkin akan berpikir macam-macam, pikirku.
“Satu aja, ya?” tanyanya ramah.
“Ya, makasih.”, jawabku sebisa mungkin menghindari pertanyaan lain yang mungkin timbul.
Kulangkahkan kakiku ringan sambil tersenyum dalam hati, akhirnya aku akan menikmatinya. Kututup pintu di belakangku, mencari-cari sosok yang pasti akan menghalangi. Kulihat Ayahku lelap tertidur, adik-adikku juga sedang sibuk main di kamar.
Dimana? Dimana? Sekarang. Harus sekarang. Tapi dimana? Otakku penuh dengan pertanyaan-pertanyaan. Kuputuskan melakukannya di kamar mandi. Tentu saja dengan pertimbangan yang akan menguntungkan. Kubungkus keduanya dengan rapi. Kuselipkan di kantong belakang celana pendek jeans belel-ku. Perlahan namun pasti aku mulai memasukinya.
Di dalam segera kulucuti semua pakaianku, dengan maksud agar tidak ada bau yang menempel padanya. Pertama kubuka bungkusan, lalu seperti layaknya seorang professional kujepit diantara telunjuk dan jari tengahku. Kunyalakan korek namun karena tidak tahu caranya aku tidak menghisapnya dan rokok di tanganku pun mati. Aku tidak menyerah. Kali ini aku mulai mengikuti gaya para professional. Dan … berhasil! Kini bisa kurasakan ‘rasanya’ di tenggorokanku. Di paru-paruku. Dalam kematianku.
Aku terbatuk. Seperti yang kuharapkan. Terbatuk lagi. Tidak tahan lagi, kumatikan apinya. Bau asapnya memenuhi seisi kamar mandi. Masih kurasakan tembakau dalam lintingan itu. Ini agaknya akan mencurigakan orang rumah, buru-buru aku jebar-jebur mandi.
Saat melepas atau terlepas dari orang yang kita sayangi jauh dari kata sakit. Saat yang kau temukan cuma luka…aku merasakan bersalah yang amat sangat. Lalu cuma air mata yang menemani, mencoba mengerti aku. Saat benci hanya tertuju padaku. Allah …sayangku masih terlalu besar untuk dipatahkan. Bunga itu pun mati di musim semi. Pintaku cuma yang terbaik. Bahkan saat semua yang kurasa hanya luka. Itulah yang terbaik.
Aku kembali memikirkan kejadian tadi pagi. Ketika cinta yang belum berakhir terpaksa berakhir. Aku tidak mungkin melakukan ini. Merokok. Tapi aku telah kehilangan arah. Rokok adalah pelampiasan terbaik. Tak peduli seberapa bencinya aku pada perokok itu, pada asap itu. Sekarang aku juga merokok. Aku tidak menyesal.
Aku pun kecanduan rokok. Sepuluh tahun setelah itu, aku telah tumbuh menjadi perokok berat. Suamiku menceraikan aku, aku mandul. Aku sadar keluargaku subur, ini pasti rokok.
Menurut hasil diagnosa dokter, aku mengidap kanker paru-paru. Tidak ada orang lain yang tahu atau sekedar mau peduli. Karena mereka benci perokok. Karena aku telah menjanda dan mereka malu mengaku aku anak.
Aku sering berjalan-jalan sendiri saat petang. Menikmati saat-saat terakhir. Sama seperti saat ini, saat tiba-tiba seorang anak cacat berjalan terseok-seok berusaha menyamai langkahku.
“Minta sedekahnya, Bu, buat makan.” Pintanya.
“Ibu kamu mana?” tanyaku
“Mati. Kata orang-orang kebanyakan ngerokok, terus sakit jantung.” Jelasnya.
“Kaki kamu, kenapa? Kecelakaan?” lagi-lagi aku bertanya.
“Gara-gara ibu ngerokok terus bapak pergi, kita jadi miskin, kalo saya, udah dari lahir begini, ibu ngga bisa lepas dari rokok saat hamil katanya. Ibu yang bilang sendiri sambil nangis.” Wajah lugu itu bercerita tanpa rasa marah sama sekali, layaknya seorang ibu yang membacakan dongeng sebelum tidur untuk anaknya.
“Ibu kok jalan-jalan sendiri, anak ibu mana?” tanyanya polos.
DASAR ROKOK SIALAN!
Rokok dapat menyebabkan kanker, impotensi, dan serangan jantung.
Aku tetap menggenggamnya di tanganku, tidak terlalu erat memang karena aku takut membuatnya patah. Susah payah aku mengumpulkan mental untuk mendapatkannya. Sakit!
Dia turun dari angkutan umum dan lagi-lagi aku mengucapkan terima kasih. Terlalu banyak memang. Lalu dengan sigap tanganku masuk ke dalam tas, dengan alibi mencari-cari uang buat bayar angkos, aku meletakkannya dengan aman di dompet kecil.
Tidak lama aku pun turun. Kali ini sambil memeras otak memikirkan bagaimana cara mendapatkan pasangannya. Setelah berpikir keras, akhirnya aku berhenti di depan warung dekat rumah, menunggu pelanggan yang lain. Aku sangat bersyukur yang melayani hanya seorang anak kecil, dia tidak mungkin akan berpikir macam-macam, pikirku.
“Satu aja, ya?” tanyanya ramah.
“Ya, makasih.”, jawabku sebisa mungkin menghindari pertanyaan lain yang mungkin timbul.
Kulangkahkan kakiku ringan sambil tersenyum dalam hati, akhirnya aku akan menikmatinya. Kututup pintu di belakangku, mencari-cari sosok yang pasti akan menghalangi. Kulihat Ayahku lelap tertidur, adik-adikku juga sedang sibuk main di kamar.
Dimana? Dimana? Sekarang. Harus sekarang. Tapi dimana? Otakku penuh dengan pertanyaan-pertanyaan. Kuputuskan melakukannya di kamar mandi. Tentu saja dengan pertimbangan yang akan menguntungkan. Kubungkus keduanya dengan rapi. Kuselipkan di kantong belakang celana pendek jeans belel-ku. Perlahan namun pasti aku mulai memasukinya.
Di dalam segera kulucuti semua pakaianku, dengan maksud agar tidak ada bau yang menempel padanya. Pertama kubuka bungkusan, lalu seperti layaknya seorang professional kujepit diantara telunjuk dan jari tengahku. Kunyalakan korek namun karena tidak tahu caranya aku tidak menghisapnya dan rokok di tanganku pun mati. Aku tidak menyerah. Kali ini aku mulai mengikuti gaya para professional. Dan … berhasil! Kini bisa kurasakan ‘rasanya’ di tenggorokanku. Di paru-paruku. Dalam kematianku.
Aku terbatuk. Seperti yang kuharapkan. Terbatuk lagi. Tidak tahan lagi, kumatikan apinya. Bau asapnya memenuhi seisi kamar mandi. Masih kurasakan tembakau dalam lintingan itu. Ini agaknya akan mencurigakan orang rumah, buru-buru aku jebar-jebur mandi.
Saat melepas atau terlepas dari orang yang kita sayangi jauh dari kata sakit. Saat yang kau temukan cuma luka…aku merasakan bersalah yang amat sangat. Lalu cuma air mata yang menemani, mencoba mengerti aku. Saat benci hanya tertuju padaku. Allah …sayangku masih terlalu besar untuk dipatahkan. Bunga itu pun mati di musim semi. Pintaku cuma yang terbaik. Bahkan saat semua yang kurasa hanya luka. Itulah yang terbaik.
Aku kembali memikirkan kejadian tadi pagi. Ketika cinta yang belum berakhir terpaksa berakhir. Aku tidak mungkin melakukan ini. Merokok. Tapi aku telah kehilangan arah. Rokok adalah pelampiasan terbaik. Tak peduli seberapa bencinya aku pada perokok itu, pada asap itu. Sekarang aku juga merokok. Aku tidak menyesal.
Aku pun kecanduan rokok. Sepuluh tahun setelah itu, aku telah tumbuh menjadi perokok berat. Suamiku menceraikan aku, aku mandul. Aku sadar keluargaku subur, ini pasti rokok.
Menurut hasil diagnosa dokter, aku mengidap kanker paru-paru. Tidak ada orang lain yang tahu atau sekedar mau peduli. Karena mereka benci perokok. Karena aku telah menjanda dan mereka malu mengaku aku anak.
Aku sering berjalan-jalan sendiri saat petang. Menikmati saat-saat terakhir. Sama seperti saat ini, saat tiba-tiba seorang anak cacat berjalan terseok-seok berusaha menyamai langkahku.
“Minta sedekahnya, Bu, buat makan.” Pintanya.
“Ibu kamu mana?” tanyaku
“Mati. Kata orang-orang kebanyakan ngerokok, terus sakit jantung.” Jelasnya.
“Kaki kamu, kenapa? Kecelakaan?” lagi-lagi aku bertanya.
“Gara-gara ibu ngerokok terus bapak pergi, kita jadi miskin, kalo saya, udah dari lahir begini, ibu ngga bisa lepas dari rokok saat hamil katanya. Ibu yang bilang sendiri sambil nangis.” Wajah lugu itu bercerita tanpa rasa marah sama sekali, layaknya seorang ibu yang membacakan dongeng sebelum tidur untuk anaknya.
“Ibu kok jalan-jalan sendiri, anak ibu mana?” tanyanya polos.
DASAR ROKOK SIALAN!
Rokok dapat menyebabkan kanker, impotensi, dan serangan jantung.
No comments:
Post a Comment