Saya merasakannya penuh pengorbanan. Pendengaran saya, namun bagaimana, mendengarkan kisah-kisah yang berbeda. Ada satu wanita, berumur, dan katanya memiliki banyak affair. Ada satu wanita lagi, masih belia, dan katanya membina hubungan terbuka, tidak terikat dengan siapa pun, semuanya “teman”. Ada satu lagi wanita yang dipuja-puja, namun main belakang. Bukan hanya perempuan saja, saya tahu. Saya hanya kehabisan cara memaklumi yang demikian.
Biar seberapa acuh pun saya, tetap berita-berita seperti itu, membuat saya diam dan berpikir lama. Ketidaknyamanan itu kemudian tumbuh, saya mulai mengotak-ngotakkan pergaulan saya. Menjaga diri dari segala pengaruh. Dan masih bertanya, apa yang membuat hati menoleh? Alasan apa yang membuat komitmen sakral itu bisa dipatahkan? Rasa seperti apa yang tertinggal di kepala dan hati mereka?
Saya tahu hal ini bisa terjadi pada siapa saja, termasuk saya, kapan saja termasuk sekarang. Hanya saja, tetap buat saya tidak ada alasan yang membenarkan. Tinggal bilang tidak, saat rasanya sudah tidak sama, tinggal bilang tidak saat penderitaan dan pengorbanan yang dilakukan dirasa terlalu besar, tapi buat apa main bohong-bohongan? Bukankah itu bodoh?
Meyakini diri sendiri pintar berarti: tahu apa yang harus dilakukan saat ketidaknyamanan menyerang. Dan perselingkuhan tetap penyakit yang sewajarnya bermukim di kepala-kepala rendahan. Ya, ya, ya, saya tahu, dasi bukan berarti martabat yang lebih tinggi atau hak tinggi bukan keluhuran budi, tapi bukankah harga diri harusnya sejajar dengan jumlah nol yang mereka hasilkan? Bukankah banyaknya angka nol itu yang membuat mereka merasa naik harkat dan martabat?
-pengamat affair
Sunday, May 9, 2010
Monday, April 12, 2010
Writer’s Block
Karena mengalami penyakit yang umum dijalani para penulis tersebut, akhirnya saya putuskan untuk mendengar radio dan tersenyum-senyum sendiri mendengar ulah kocak penyiarnya. Dilanjutkan dengan buka-buka website New York Times dan The New Yorker. Terperangkap dengan berita peraihan Pulitzer 2010, saya baca-baca siapa dapat apa, terus buka web-nya Craig Walker yang memenangkan Pulitzer untuk feature photography.
Hmm..keren. Kadang-kadang saya pikir pekerjaan-pekerjaan seperti fotografer, penulis dan pekerjaan-pekerjaan formal berbau kreatif lainnya tidak memerlukan training ini itu, workshop ini itu, cukup punya ide original brilian. Ditambah tekad yang kuat.
Ternyata saya menemukan data ini di Denver Post:
Walker has been with The Post since 1998. A graduate of the Rhode Island School of Photography, he began his career in Massachusetts, at the Marlborough Enterprise.
Eh, ternyata dia ngga cuma modal ide deng, well at least dia punya skill yang cukup dengan berbekal sekolah di Rhode Island School. Saya masih modal ide doang tapi, belum pernah benar-benar belajar jurnalistik atau sebagainya. Pokoknya menulis, menulis, menulis, pakai feeling dan intuisi. Hasilnya, belum dikeluhkan soal tulisan.
justru dikeluhkan soal kedisiplinan. Hehe.
Haah. Setelah baca-baca, saya malah pusing, entah karena font-nya yang terlalu kecil atau mata saya memang minus.
Well, sepertinya seharian ini saya tidak berhasil menulis artikel apapun, walaupun ada tiga artikel yang saya targetkan selesai hari ini.
Semoga makan siang nanti membawa pencerahan.
Hmm..keren. Kadang-kadang saya pikir pekerjaan-pekerjaan seperti fotografer, penulis dan pekerjaan-pekerjaan formal berbau kreatif lainnya tidak memerlukan training ini itu, workshop ini itu, cukup punya ide original brilian. Ditambah tekad yang kuat.
Ternyata saya menemukan data ini di Denver Post:
Walker has been with The Post since 1998. A graduate of the Rhode Island School of Photography, he began his career in Massachusetts, at the Marlborough Enterprise.
Eh, ternyata dia ngga cuma modal ide deng, well at least dia punya skill yang cukup dengan berbekal sekolah di Rhode Island School. Saya masih modal ide doang tapi, belum pernah benar-benar belajar jurnalistik atau sebagainya. Pokoknya menulis, menulis, menulis, pakai feeling dan intuisi. Hasilnya, belum dikeluhkan soal tulisan.
justru dikeluhkan soal kedisiplinan. Hehe.
Haah. Setelah baca-baca, saya malah pusing, entah karena font-nya yang terlalu kecil atau mata saya memang minus.
Well, sepertinya seharian ini saya tidak berhasil menulis artikel apapun, walaupun ada tiga artikel yang saya targetkan selesai hari ini.
Semoga makan siang nanti membawa pencerahan.
Tuesday, March 9, 2010
Berkejaran.
Berkejaran dengan waktu sudah pasti dialami setiap hari. Tapi belum tentu setiap hari orang berkejaran dengan bis, atau lampu merah untuk keamanan saat menyeberang kan? Seperti Seno Gumira Ajidarma pernah bilang: manusia Jakarta dalah manusia mobil.
Selain mobil, di pagi buta jam setengah enam pagi, juga berdesakan adegan akrobatik dari para pengendara motor dan raksasa penguasa jalan seperti patas ac atau bis-bis ukuran sedang. Manusia mobil berkejaran dengan three in one. Akrobatik motor berkejaran dengan celah-celah jalanan. Patas ac dan bis berkejaran dengan bis lainnya; mengejar penumpang dan setoran.
Tidak seperti biasa, pagi ini, saya terpaksa turun ke jalan dari mulut underpass karena angkutan umum yang saya naiki terjebak alias tidak jalan sama sekali karena ada patas yang ngetem di tengah jalan. Saya menginjak kol busuk (sambil bersyukur karena telah memutuskan memakai flat shoes daripada wedges), menyaksikan penjual sayur mengupas jagung, membungkus pare, menata bayam, wortel dan timun atau membungkus tempe dengan daun pisang. Semuanya dilakukan dengan cepat dan sambil diselingi senda gurau dengan sesama teman penjual sayur. Mereka berkejaran dengan uang sekolah bulanan anaknya atau tuntutan keluarga di kampung.
Saya bangun jam 4 pagi. Terburu-buru mandi. Terburu-buru pakaian dan menyiapkan sarapan. Saya berkejaran dengan kemacetan di Jakarta. Kalau saya berangkat jam 5, saya bisa sampai kantor jam 6.30, artinya perjalanan memakan waktu 90 menit. Tapi kalau saya berangkat 5.30, waktu perjalanan akan molor sampai dua jam. Begitu seterusnya. Hingga kadang waktu perjalanan mencapai 2,5 – 3 jam. Prihatin.
Jakarta. Semua orang lari-lari. Terbirit-birit dengan waktu.
Nyda pagi ini: jogging sambil menyeberang jalan, sambil melewati pelataran Plasa Senayan dihibur dengan Heard ‘Em Say-nya Kanye West feat. Adam Levine (Maroon 5), dibuat ngiler dengan bau kopi Starbucks, yang bahkan belum menurunkan kursi-kursinya. Tiba di cubicle, IP phone saya menunjukkan jam 6.40. Dan sepatu yang menginjak sayuran di pasar tadi, kini mendarat di atas karpet lurik abu-abu bercampur dengan partikel debu yang bersembungi di serat-serat karpet. Simbol penduduk sub-urban yang bertitel sarjana dan seringnya dicap social climber. Pagi ngebis, sampe kantor adem nga-ac. Selamat pagi!
Selain mobil, di pagi buta jam setengah enam pagi, juga berdesakan adegan akrobatik dari para pengendara motor dan raksasa penguasa jalan seperti patas ac atau bis-bis ukuran sedang. Manusia mobil berkejaran dengan three in one. Akrobatik motor berkejaran dengan celah-celah jalanan. Patas ac dan bis berkejaran dengan bis lainnya; mengejar penumpang dan setoran.
Tidak seperti biasa, pagi ini, saya terpaksa turun ke jalan dari mulut underpass karena angkutan umum yang saya naiki terjebak alias tidak jalan sama sekali karena ada patas yang ngetem di tengah jalan. Saya menginjak kol busuk (sambil bersyukur karena telah memutuskan memakai flat shoes daripada wedges), menyaksikan penjual sayur mengupas jagung, membungkus pare, menata bayam, wortel dan timun atau membungkus tempe dengan daun pisang. Semuanya dilakukan dengan cepat dan sambil diselingi senda gurau dengan sesama teman penjual sayur. Mereka berkejaran dengan uang sekolah bulanan anaknya atau tuntutan keluarga di kampung.
Saya bangun jam 4 pagi. Terburu-buru mandi. Terburu-buru pakaian dan menyiapkan sarapan. Saya berkejaran dengan kemacetan di Jakarta. Kalau saya berangkat jam 5, saya bisa sampai kantor jam 6.30, artinya perjalanan memakan waktu 90 menit. Tapi kalau saya berangkat 5.30, waktu perjalanan akan molor sampai dua jam. Begitu seterusnya. Hingga kadang waktu perjalanan mencapai 2,5 – 3 jam. Prihatin.
Jakarta. Semua orang lari-lari. Terbirit-birit dengan waktu.
Nyda pagi ini: jogging sambil menyeberang jalan, sambil melewati pelataran Plasa Senayan dihibur dengan Heard ‘Em Say-nya Kanye West feat. Adam Levine (Maroon 5), dibuat ngiler dengan bau kopi Starbucks, yang bahkan belum menurunkan kursi-kursinya. Tiba di cubicle, IP phone saya menunjukkan jam 6.40. Dan sepatu yang menginjak sayuran di pasar tadi, kini mendarat di atas karpet lurik abu-abu bercampur dengan partikel debu yang bersembungi di serat-serat karpet. Simbol penduduk sub-urban yang bertitel sarjana dan seringnya dicap social climber. Pagi ngebis, sampe kantor adem nga-ac. Selamat pagi!
Monday, March 8, 2010
Mulai di Senin, Dari Angka 0
Senin adalah hari pertama kerja setelah libur di Sabtu dan Minggu.
Dan 0 adalah angka pertama dalam bilangan cacah.
Saya tidak tahu siapa yang membuat teori ini. Seperti juga teori yang telah ada, pertanyaan “mengapa” dijawab dengan “karena”.
Membosankan sungguh hidup dalam pola tertentu.
Delapan jam kerja:
1 jam nyanyi2 dan memainkan playlist.
4 jam nonton dvd
1 jam makan siang
2 jam tidur siang
Pola nyda.
Dan 0 adalah angka pertama dalam bilangan cacah.
Saya tidak tahu siapa yang membuat teori ini. Seperti juga teori yang telah ada, pertanyaan “mengapa” dijawab dengan “karena”.
Membosankan sungguh hidup dalam pola tertentu.
Delapan jam kerja:
1 jam nyanyi2 dan memainkan playlist.
4 jam nonton dvd
1 jam makan siang
2 jam tidur siang
Pola nyda.
Monday, March 1, 2010
Kesempatan
(Menulis sambil mendengarkan Postal Service: Sleeping in; tune-nya menggoyang bahu)
Berbicara soal kesempatan memang terkadang bikin keki. Ada yang bilang kesempatan datang karena keberuntungan, ada juga yang bilang kesempatan didapat karena dicari dengan kerja keras.
Saya percaya kesempatan datang di saat keyakinan bulat sudah dan jerih payah terkuras habis, tidak lupa doa yang dikomat-kamitkan di mulut dan hati.
Beberapa kenalan saya memiliki kesempatan yang saya inginkan sejak lama, namun belum kesampaian. Kadang memang mengundang dengki, tapi saya juga yakin kalau saya kurang gigih untuk mendapatkan keinginan saya. Karena saya tidak bisa merelakan delapan jam waktu tidur saya untuk mengejar mimpi.
Ada satu kenalan yang mendapat kesempatan kuliah di luar negeri dengan duit ortu, ada lagi yang di usia 23 udah semester akhir untuk gelar master-nya, belum lagi yg udah nerbitin beberapa bukunya.
Saya menghitung-hitung tabungan saya, belum cukup untuk kuliah lagi, belum juga cukup buat nerbitin buku sendiri. Harus sabar lebih, atau irit lebih lagi. Haha.
Pada dasarnya, kesempatan itu ada di depan mata, terbentang luas, cuma kita pasti milih-milih mana yang mau diambil, mana yang sesuai, mana yang bernilai.
Tapi kalau terlalu lama memilih-milih juga, risikonya kesempatan akan terbang menjauh.
Daftar kesempatan yang saya lewatkan di antaranya:
1. Menjadi penyanyi blues, mengingat Papa saya aktif di Inablues pasti jalan menjadi penyanyi blues lebih mudah dan mengingat kata Koh suara saya terbilang bagus untuk penyanyi amatir
2. Menerbitkan novel sendiri, waktu itu saya memperoleh beasiswa menulis kreatif dari Agromedia, janji mereka novel yang selesai akan dibantu penerbitannya, sayang sekali novel saya ngga maju-maju, jadi tidak ada yang bisa diterbitkan. Teman saya sesama penerima beasiswa sudah dua buku diterbitkan
3. Kuliah di Australia, waktu itu ceritanya ada yang mau membiayai kuliah saya tapi karena baru kenal saya tolak, saya paling tidak suka balas budi
Tapi saya yakin satu pintu kesempatan tertutup, pintu kesempatan lain dibuka.
Buktinya hari ini saya berhasil menulis 67 edisi newsletter tentang perusahaan tempat saya bernaung, total berarti ada 191 artikel, dalam kurun waktu 1 tahun 5 bulan. Suara saya juga sudah saya distribusikan kepada salah satu calon music director. Dan katanya ok, saya bahkan dipercaya untuk menciptakan lagu berdua dengan beliau. Soal kuliah di luar negeri masih meraba-raba memang, tapi salah satu pembaca blog ini, percaya ngga percaya, mau mensponsori buku pertama saya (mudah-mudahan yang ini tidak saya lewatkan).
Jangan lupa syukuri kesempatan-kesempatan kecil yang kadang terlupakan.
Kesempatan yang tidak saya lewatkan hari ini adalah tidur satu jam di bis dari total 2 jam perjalanan dengan rute Pamulang-Senayan. Alhamdulillah.
Raih kesempatan dan bersyukur.
Note:
Semoga tulisan saya selalu bermanfaat seperti ini, tapi tidak bohong saya lebih suka mencela orang lain dalam tulisan. Rasanya seperti dibebaskan dan paling benar. Karena itu Gandhi dan Mother Theresa cuma ada satu di dunia dan orang seperti saya jumlahnya mungkin jutaan tersebar di daerah-daerah sub-urban.
Berbicara soal kesempatan memang terkadang bikin keki. Ada yang bilang kesempatan datang karena keberuntungan, ada juga yang bilang kesempatan didapat karena dicari dengan kerja keras.
Saya percaya kesempatan datang di saat keyakinan bulat sudah dan jerih payah terkuras habis, tidak lupa doa yang dikomat-kamitkan di mulut dan hati.
Beberapa kenalan saya memiliki kesempatan yang saya inginkan sejak lama, namun belum kesampaian. Kadang memang mengundang dengki, tapi saya juga yakin kalau saya kurang gigih untuk mendapatkan keinginan saya. Karena saya tidak bisa merelakan delapan jam waktu tidur saya untuk mengejar mimpi.
Ada satu kenalan yang mendapat kesempatan kuliah di luar negeri dengan duit ortu, ada lagi yang di usia 23 udah semester akhir untuk gelar master-nya, belum lagi yg udah nerbitin beberapa bukunya.
Saya menghitung-hitung tabungan saya, belum cukup untuk kuliah lagi, belum juga cukup buat nerbitin buku sendiri. Harus sabar lebih, atau irit lebih lagi. Haha.
Pada dasarnya, kesempatan itu ada di depan mata, terbentang luas, cuma kita pasti milih-milih mana yang mau diambil, mana yang sesuai, mana yang bernilai.
Tapi kalau terlalu lama memilih-milih juga, risikonya kesempatan akan terbang menjauh.
Daftar kesempatan yang saya lewatkan di antaranya:
1. Menjadi penyanyi blues, mengingat Papa saya aktif di Inablues pasti jalan menjadi penyanyi blues lebih mudah dan mengingat kata Koh suara saya terbilang bagus untuk penyanyi amatir
2. Menerbitkan novel sendiri, waktu itu saya memperoleh beasiswa menulis kreatif dari Agromedia, janji mereka novel yang selesai akan dibantu penerbitannya, sayang sekali novel saya ngga maju-maju, jadi tidak ada yang bisa diterbitkan. Teman saya sesama penerima beasiswa sudah dua buku diterbitkan
3. Kuliah di Australia, waktu itu ceritanya ada yang mau membiayai kuliah saya tapi karena baru kenal saya tolak, saya paling tidak suka balas budi
Tapi saya yakin satu pintu kesempatan tertutup, pintu kesempatan lain dibuka.
Buktinya hari ini saya berhasil menulis 67 edisi newsletter tentang perusahaan tempat saya bernaung, total berarti ada 191 artikel, dalam kurun waktu 1 tahun 5 bulan. Suara saya juga sudah saya distribusikan kepada salah satu calon music director. Dan katanya ok, saya bahkan dipercaya untuk menciptakan lagu berdua dengan beliau. Soal kuliah di luar negeri masih meraba-raba memang, tapi salah satu pembaca blog ini, percaya ngga percaya, mau mensponsori buku pertama saya (mudah-mudahan yang ini tidak saya lewatkan).
Jangan lupa syukuri kesempatan-kesempatan kecil yang kadang terlupakan.
Kesempatan yang tidak saya lewatkan hari ini adalah tidur satu jam di bis dari total 2 jam perjalanan dengan rute Pamulang-Senayan. Alhamdulillah.
Raih kesempatan dan bersyukur.
Note:
Semoga tulisan saya selalu bermanfaat seperti ini, tapi tidak bohong saya lebih suka mencela orang lain dalam tulisan. Rasanya seperti dibebaskan dan paling benar. Karena itu Gandhi dan Mother Theresa cuma ada satu di dunia dan orang seperti saya jumlahnya mungkin jutaan tersebar di daerah-daerah sub-urban.
Monday, February 22, 2010
Yang Muda, Yang Berjaya
Sebenarnya benar juga adanya yang muda yang berkarya, suka-sukalah. Pagi ini saya bagun dengan terkaget pada jam 3 pagi, mau sholat malam rasanya berat sekali badan ini, akhirnya saya putuskan doa malam saja (pertimbangannya doa malam tidak perlu mengangkat tubuh dari atas tempat tidur dan kena air wudhu yang membuat badan tersiksa kedinginan).
Tidur lagi dan saya bangun jam 4.47. Terkaget. Berusaha tenang sambil segera bersiap-siap.
Berangkat 5.30.
Di bis saya sudah mulai terkantuk seperti biasa; terbawa ayunan rem supir bis. Pemandangan di sebelah kanan saya sungguh membuat semangat, seorang anak muda usia sekitar 26-27 tahun berlari cepat sekali seperti adegan Forrest Gump dikejar teman-temannya. Saya tidak tahu target anak muda ini, sampai melihat matanya mengarah tajam ke satu patas AC (ooo..ngejar bis tho!).
Saya jadi ingat masa SMA, saat saya juga selalu mengejar-ngejar angkutan umum, karena sudah terlambat, alasan terlambatnya karena saya menunggu radio show kesukaan saya berakhir. Dangkal memang!
Melihat anak muda yang berlari itu, saya jadi mensyukuri nikmatnya menjadi muda. Badan masih sehat, kuat berlari-lari, kuat begadang sampai pagi, kuat pulang kantor hang out lagi sama teman-teman, kuat makan sop kaki kambing dua mangkok. Whoah nikmatnya jadi muda-mudi!
Renungan ini kemudian menjadi serius. Apa yang harus hilang saat usia saya memasuki usia 30 nanti? Apakah saya akan mulai kehilangan kondisi tubuh yang fit tadi, atau saya harus kehilangan gairah hura-hura? Apakah saya mulai mati perlahan?
Pemikiran menjadi lebih serius. Apa saja yang belum saya nikmati saat saya mengalami masa muda ini? Apakah saya sudah mencoba semua wahana di Dufan? Apakah semua makanan berlemak tinggi dan penuh penyakit sudah saya coba semua? Apakah saya sudah mencoba semua yang dilarang di masa tua nanti?
Bertambah serius. Apa saja yang sudah saya lakukan di masa muda saya? Cukup bermanfaatkah? Atau hanya kemampuan standar menghabiskan gaji bulanan di mal? Apa saja karya yang sudah saya buat?
Tuhan. Kenapa saya selalu berpikir panjang dan serius seperti ini? Bahkan saat hanya melihat pria usia 26 tahun berlari mengejar patas AC. Kenapa saya tidak mengagumi saja bentuk tubuh pria itu yang bidang tegap. Yang akhirnya berhasil mengejar patas AC dan menumpanginya.
Nyda: Yang muda, yang tak berdaya dengan pemikiran-pemikiran terlalu seriusnya.
Tidur lagi dan saya bangun jam 4.47. Terkaget. Berusaha tenang sambil segera bersiap-siap.
Berangkat 5.30.
Di bis saya sudah mulai terkantuk seperti biasa; terbawa ayunan rem supir bis. Pemandangan di sebelah kanan saya sungguh membuat semangat, seorang anak muda usia sekitar 26-27 tahun berlari cepat sekali seperti adegan Forrest Gump dikejar teman-temannya. Saya tidak tahu target anak muda ini, sampai melihat matanya mengarah tajam ke satu patas AC (ooo..ngejar bis tho!).
Saya jadi ingat masa SMA, saat saya juga selalu mengejar-ngejar angkutan umum, karena sudah terlambat, alasan terlambatnya karena saya menunggu radio show kesukaan saya berakhir. Dangkal memang!
Melihat anak muda yang berlari itu, saya jadi mensyukuri nikmatnya menjadi muda. Badan masih sehat, kuat berlari-lari, kuat begadang sampai pagi, kuat pulang kantor hang out lagi sama teman-teman, kuat makan sop kaki kambing dua mangkok. Whoah nikmatnya jadi muda-mudi!
Renungan ini kemudian menjadi serius. Apa yang harus hilang saat usia saya memasuki usia 30 nanti? Apakah saya akan mulai kehilangan kondisi tubuh yang fit tadi, atau saya harus kehilangan gairah hura-hura? Apakah saya mulai mati perlahan?
Pemikiran menjadi lebih serius. Apa saja yang belum saya nikmati saat saya mengalami masa muda ini? Apakah saya sudah mencoba semua wahana di Dufan? Apakah semua makanan berlemak tinggi dan penuh penyakit sudah saya coba semua? Apakah saya sudah mencoba semua yang dilarang di masa tua nanti?
Bertambah serius. Apa saja yang sudah saya lakukan di masa muda saya? Cukup bermanfaatkah? Atau hanya kemampuan standar menghabiskan gaji bulanan di mal? Apa saja karya yang sudah saya buat?
Tuhan. Kenapa saya selalu berpikir panjang dan serius seperti ini? Bahkan saat hanya melihat pria usia 26 tahun berlari mengejar patas AC. Kenapa saya tidak mengagumi saja bentuk tubuh pria itu yang bidang tegap. Yang akhirnya berhasil mengejar patas AC dan menumpanginya.
Nyda: Yang muda, yang tak berdaya dengan pemikiran-pemikiran terlalu seriusnya.
Thursday, February 18, 2010
Pemerhati Wanita
Agak mengerikan memang meletakkan julukan “Pemerhati wanita” di tengah nama saya. Tetapi sejak zaman dahulu kala memang melekat sudah kebiasaan ini, bukan saja wanita, pria juga, pokoknya manusia. Pernah saya satu angkutan dengan dua anak SD laki-laki, mereka sedang main tebak-tebakan.
Permainannya begini: Pemain harus bisa menemukan kata lengkap dari inisial awal dan akhir yang diberikan lawan main. Contoh pertanyaannya sebagai berikut: Depannya “P” belakangnya “S”, nah jawabannya adalah “Parkir Gratis” dan letak kata tersebut ada di parkiran salah satu supermarket yang kita lewati. Dan, dengan muka komik, saya terbawa permainan mereka, celingak-celinguk cari kata yang sesuai inisial yang diberikan. Sungguh bodoh memang!
Kembali ke wanita, menurut saya wanita memang selalu menjadi objek menarik untuk diperhatikan. Bayangkan, mulai dari rambut, pilihan baju, aksesoris, sampai dandanan, lengkap semua. Objek saya pagi ini, mmmh menyenangkan. Cantik alami. Umurnya diperkirakan sekitar 18-19 tahun. Dan saya hanya mampu menangkap sosoknya dari kepala hingga dada, karena terhalang orang lain. Saya bisa jamin dirinya sehat. Rambut hitam panjang mengkilat dikuncir tinggi, mata bulat jernih, semakin indah dengan lengkungan alis hitam sempurna. Hidung tinggi. Bibir penuh dan sehat tanpa lip balm. Kulit coklat lembab sempurna, tidak terlalu berminyak atau kering.
Pakaian hari ini? Sempurna lagi. Dia memakai kemeja lengan pendek dari bahan katun jepang bermotif timbul dan bolong-bolong kecil, bagian leher dibuat sedikit lebih lebar dari kemeja pada umumnya. Warnanya peach. Seperti membawa pelangi seusai hujan yang mengguyur. Hah! indahnya makhluk Tuhan yang satu ini. Yang melengkapi kecantikannya adalah dia tidak bertingkah bak supermodel atau kontestan Miss Universe yang mengangkat dagu tinggi dengan pandangan mata “siapa saya, siapa kamu?”.
Dia juga terlihat tidak jijik berpegangan tangan pada besi bis bobrok ini. Matanya lincah kesana kemari. Memperhatikan orang. Dan seperti yang saya duga, dia pintar. Referensi saya bilang dia pintar, karena matanya menatap lama pada papan nama tempat kursus bahasa, menelaah satu per satu kata. Sama seperti saya saat pertama kali melihat papan tersebut. Bukan jaminan memang! Tapi saya yakin begitu.
Dua hari lalu, saya juga memperhatikan seorang wanita di angkutan. Anak SMIP. Pulang sekolah masih memakai jaket lengkap. Yang membuat saya menengok dan akhirnya memutuskan untuk memperhatikan dia lama adalah gerakannya mengelap keringat dengan tisu. Seperti putri-putri keraton. Tidak seperti saya yang mengelap dengan satu sapuan tisu, dia mengelap di titik-titik butir keringat satu per satu. Luar biasa. Setahu saya orang yang mengelap per butir seperti itu adalah orang yang sedang memakai make-up, tujuannya supaya tidak merusak make-up yang dikenakan. Masalahnya anak SMIP ini tidak sedang ber-make-up! Tuhan!
Gerak-gerik lainnya. Senyumnya jaim, tidak lepas. Matanya melirik-melirik, halus tapi mau. Dan di cuaca yang panas itu, rambutnya dibiarkan panjang terurai, dan setiap dia merasa kepanasan dia tidak mengangkatnya penuh, dia hanya mengangkat sedikit agar memberikan efek melengkung di bawah telinga. Luar biasa wanita ini. Penggoda!
Saya tahu saya cynical dan jahat. Tapi ini lebih baik daripada berpura-pura baik dan berbudi luhur tinggi. Saya tahu saya tidak cantik-cantik amat, tapi masih lebih cantik dari anak SMIP itu. Maafkan keterusterangan saya. Saya hanya lahir dengan casing rendah hati.
Permainannya begini: Pemain harus bisa menemukan kata lengkap dari inisial awal dan akhir yang diberikan lawan main. Contoh pertanyaannya sebagai berikut: Depannya “P” belakangnya “S”, nah jawabannya adalah “Parkir Gratis” dan letak kata tersebut ada di parkiran salah satu supermarket yang kita lewati. Dan, dengan muka komik, saya terbawa permainan mereka, celingak-celinguk cari kata yang sesuai inisial yang diberikan. Sungguh bodoh memang!
Kembali ke wanita, menurut saya wanita memang selalu menjadi objek menarik untuk diperhatikan. Bayangkan, mulai dari rambut, pilihan baju, aksesoris, sampai dandanan, lengkap semua. Objek saya pagi ini, mmmh menyenangkan. Cantik alami. Umurnya diperkirakan sekitar 18-19 tahun. Dan saya hanya mampu menangkap sosoknya dari kepala hingga dada, karena terhalang orang lain. Saya bisa jamin dirinya sehat. Rambut hitam panjang mengkilat dikuncir tinggi, mata bulat jernih, semakin indah dengan lengkungan alis hitam sempurna. Hidung tinggi. Bibir penuh dan sehat tanpa lip balm. Kulit coklat lembab sempurna, tidak terlalu berminyak atau kering.
Pakaian hari ini? Sempurna lagi. Dia memakai kemeja lengan pendek dari bahan katun jepang bermotif timbul dan bolong-bolong kecil, bagian leher dibuat sedikit lebih lebar dari kemeja pada umumnya. Warnanya peach. Seperti membawa pelangi seusai hujan yang mengguyur. Hah! indahnya makhluk Tuhan yang satu ini. Yang melengkapi kecantikannya adalah dia tidak bertingkah bak supermodel atau kontestan Miss Universe yang mengangkat dagu tinggi dengan pandangan mata “siapa saya, siapa kamu?”.
Dia juga terlihat tidak jijik berpegangan tangan pada besi bis bobrok ini. Matanya lincah kesana kemari. Memperhatikan orang. Dan seperti yang saya duga, dia pintar. Referensi saya bilang dia pintar, karena matanya menatap lama pada papan nama tempat kursus bahasa, menelaah satu per satu kata. Sama seperti saya saat pertama kali melihat papan tersebut. Bukan jaminan memang! Tapi saya yakin begitu.
Dua hari lalu, saya juga memperhatikan seorang wanita di angkutan. Anak SMIP. Pulang sekolah masih memakai jaket lengkap. Yang membuat saya menengok dan akhirnya memutuskan untuk memperhatikan dia lama adalah gerakannya mengelap keringat dengan tisu. Seperti putri-putri keraton. Tidak seperti saya yang mengelap dengan satu sapuan tisu, dia mengelap di titik-titik butir keringat satu per satu. Luar biasa. Setahu saya orang yang mengelap per butir seperti itu adalah orang yang sedang memakai make-up, tujuannya supaya tidak merusak make-up yang dikenakan. Masalahnya anak SMIP ini tidak sedang ber-make-up! Tuhan!
Gerak-gerik lainnya. Senyumnya jaim, tidak lepas. Matanya melirik-melirik, halus tapi mau. Dan di cuaca yang panas itu, rambutnya dibiarkan panjang terurai, dan setiap dia merasa kepanasan dia tidak mengangkatnya penuh, dia hanya mengangkat sedikit agar memberikan efek melengkung di bawah telinga. Luar biasa wanita ini. Penggoda!
Saya tahu saya cynical dan jahat. Tapi ini lebih baik daripada berpura-pura baik dan berbudi luhur tinggi. Saya tahu saya tidak cantik-cantik amat, tapi masih lebih cantik dari anak SMIP itu. Maafkan keterusterangan saya. Saya hanya lahir dengan casing rendah hati.
Subscribe to:
Posts (Atom)