Berkejaran dengan waktu sudah pasti dialami setiap hari. Tapi belum tentu setiap hari orang berkejaran dengan bis, atau lampu merah untuk keamanan saat menyeberang kan? Seperti Seno Gumira Ajidarma pernah bilang: manusia Jakarta dalah manusia mobil.
Selain mobil, di pagi buta jam setengah enam pagi, juga berdesakan adegan akrobatik dari para pengendara motor dan raksasa penguasa jalan seperti patas ac atau bis-bis ukuran sedang. Manusia mobil berkejaran dengan three in one. Akrobatik motor berkejaran dengan celah-celah jalanan. Patas ac dan bis berkejaran dengan bis lainnya; mengejar penumpang dan setoran.
Tidak seperti biasa, pagi ini, saya terpaksa turun ke jalan dari mulut underpass karena angkutan umum yang saya naiki terjebak alias tidak jalan sama sekali karena ada patas yang ngetem di tengah jalan. Saya menginjak kol busuk (sambil bersyukur karena telah memutuskan memakai flat shoes daripada wedges), menyaksikan penjual sayur mengupas jagung, membungkus pare, menata bayam, wortel dan timun atau membungkus tempe dengan daun pisang. Semuanya dilakukan dengan cepat dan sambil diselingi senda gurau dengan sesama teman penjual sayur. Mereka berkejaran dengan uang sekolah bulanan anaknya atau tuntutan keluarga di kampung.
Saya bangun jam 4 pagi. Terburu-buru mandi. Terburu-buru pakaian dan menyiapkan sarapan. Saya berkejaran dengan kemacetan di Jakarta. Kalau saya berangkat jam 5, saya bisa sampai kantor jam 6.30, artinya perjalanan memakan waktu 90 menit. Tapi kalau saya berangkat 5.30, waktu perjalanan akan molor sampai dua jam. Begitu seterusnya. Hingga kadang waktu perjalanan mencapai 2,5 – 3 jam. Prihatin.
Jakarta. Semua orang lari-lari. Terbirit-birit dengan waktu.
Nyda pagi ini: jogging sambil menyeberang jalan, sambil melewati pelataran Plasa Senayan dihibur dengan Heard ‘Em Say-nya Kanye West feat. Adam Levine (Maroon 5), dibuat ngiler dengan bau kopi Starbucks, yang bahkan belum menurunkan kursi-kursinya. Tiba di cubicle, IP phone saya menunjukkan jam 6.40. Dan sepatu yang menginjak sayuran di pasar tadi, kini mendarat di atas karpet lurik abu-abu bercampur dengan partikel debu yang bersembungi di serat-serat karpet. Simbol penduduk sub-urban yang bertitel sarjana dan seringnya dicap social climber. Pagi ngebis, sampe kantor adem nga-ac. Selamat pagi!
Tuesday, March 9, 2010
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment