Monday, March 1, 2010

Kesempatan

(Menulis sambil mendengarkan Postal Service: Sleeping in; tune-nya menggoyang bahu)

Berbicara soal kesempatan memang terkadang bikin keki. Ada yang bilang kesempatan datang karena keberuntungan, ada juga yang bilang kesempatan didapat karena dicari dengan kerja keras.

Saya percaya kesempatan datang di saat keyakinan bulat sudah dan jerih payah terkuras habis, tidak lupa doa yang dikomat-kamitkan di mulut dan hati.

Beberapa kenalan saya memiliki kesempatan yang saya inginkan sejak lama, namun belum kesampaian. Kadang memang mengundang dengki, tapi saya juga yakin kalau saya kurang gigih untuk mendapatkan keinginan saya. Karena saya tidak bisa merelakan delapan jam waktu tidur saya untuk mengejar mimpi.

Ada satu kenalan yang mendapat kesempatan kuliah di luar negeri dengan duit ortu, ada lagi yang di usia 23 udah semester akhir untuk gelar master-nya, belum lagi yg udah nerbitin beberapa bukunya.

Saya menghitung-hitung tabungan saya, belum cukup untuk kuliah lagi, belum juga cukup buat nerbitin buku sendiri. Harus sabar lebih, atau irit lebih lagi. Haha.
Pada dasarnya, kesempatan itu ada di depan mata, terbentang luas, cuma kita pasti milih-milih mana yang mau diambil, mana yang sesuai, mana yang bernilai.
Tapi kalau terlalu lama memilih-milih juga, risikonya kesempatan akan terbang menjauh.

Daftar kesempatan yang saya lewatkan di antaranya:
1. Menjadi penyanyi blues, mengingat Papa saya aktif di Inablues pasti jalan menjadi penyanyi blues lebih mudah dan mengingat kata Koh suara saya terbilang bagus untuk penyanyi amatir
2. Menerbitkan novel sendiri, waktu itu saya memperoleh beasiswa menulis kreatif dari Agromedia, janji mereka novel yang selesai akan dibantu penerbitannya, sayang sekali novel saya ngga maju-maju, jadi tidak ada yang bisa diterbitkan. Teman saya sesama penerima beasiswa sudah dua buku diterbitkan
3. Kuliah di Australia, waktu itu ceritanya ada yang mau membiayai kuliah saya tapi karena baru kenal saya tolak, saya paling tidak suka balas budi

Tapi saya yakin satu pintu kesempatan tertutup, pintu kesempatan lain dibuka.
Buktinya hari ini saya berhasil menulis 67 edisi newsletter tentang perusahaan tempat saya bernaung, total berarti ada 191 artikel, dalam kurun waktu 1 tahun 5 bulan. Suara saya juga sudah saya distribusikan kepada salah satu calon music director. Dan katanya ok, saya bahkan dipercaya untuk menciptakan lagu berdua dengan beliau. Soal kuliah di luar negeri masih meraba-raba memang, tapi salah satu pembaca blog ini, percaya ngga percaya, mau mensponsori buku pertama saya (mudah-mudahan yang ini tidak saya lewatkan).

Jangan lupa syukuri kesempatan-kesempatan kecil yang kadang terlupakan.
Kesempatan yang tidak saya lewatkan hari ini adalah tidur satu jam di bis dari total 2 jam perjalanan dengan rute Pamulang-Senayan. Alhamdulillah.

Raih kesempatan dan bersyukur.

Note:
Semoga tulisan saya selalu bermanfaat seperti ini, tapi tidak bohong saya lebih suka mencela orang lain dalam tulisan. Rasanya seperti dibebaskan dan paling benar. Karena itu Gandhi dan Mother Theresa cuma ada satu di dunia dan orang seperti saya jumlahnya mungkin jutaan tersebar di daerah-daerah sub-urban.

2 comments:

eurial said...

Saya juga ngiri karena kamu bisa menulis, saya mah bisa-nya menulis puisi tolol yang tambah lama tambah mirip suicide note.
Haha
=p

E.

Inggrid Wijaya said...

"tapi saya juga yakin kalau saya kurang gigih untuk mendapatkan keinginan saya. Karena saya tidak bisa merelakan delapan jam waktu tidur saya untuk mengejar mimpi" dengan kata lain kita harus merelakan waktu tidur untuk mendapatkan mimpi itu, mungkin lebih tepatnya sebagian dari waktu tidur kita dan lebih mengefektifkan waktu dalam hidup untuk mencapai mimpi-mimpi kita
mungkin sebagian dari prinsipnya untuk mendapatkan mimpi sama seperti saya, yah keep positive thinking n banyak berdoa saja, insyaAllah all of your dreams come true dan satu lagi tetap semangat nyda