Berkejaran dengan waktu sudah pasti dialami setiap hari. Tapi belum tentu setiap hari orang berkejaran dengan bis, atau lampu merah untuk keamanan saat menyeberang kan? Seperti Seno Gumira Ajidarma pernah bilang: manusia Jakarta dalah manusia mobil.
Selain mobil, di pagi buta jam setengah enam pagi, juga berdesakan adegan akrobatik dari para pengendara motor dan raksasa penguasa jalan seperti patas ac atau bis-bis ukuran sedang. Manusia mobil berkejaran dengan three in one. Akrobatik motor berkejaran dengan celah-celah jalanan. Patas ac dan bis berkejaran dengan bis lainnya; mengejar penumpang dan setoran.
Tidak seperti biasa, pagi ini, saya terpaksa turun ke jalan dari mulut underpass karena angkutan umum yang saya naiki terjebak alias tidak jalan sama sekali karena ada patas yang ngetem di tengah jalan. Saya menginjak kol busuk (sambil bersyukur karena telah memutuskan memakai flat shoes daripada wedges), menyaksikan penjual sayur mengupas jagung, membungkus pare, menata bayam, wortel dan timun atau membungkus tempe dengan daun pisang. Semuanya dilakukan dengan cepat dan sambil diselingi senda gurau dengan sesama teman penjual sayur. Mereka berkejaran dengan uang sekolah bulanan anaknya atau tuntutan keluarga di kampung.
Saya bangun jam 4 pagi. Terburu-buru mandi. Terburu-buru pakaian dan menyiapkan sarapan. Saya berkejaran dengan kemacetan di Jakarta. Kalau saya berangkat jam 5, saya bisa sampai kantor jam 6.30, artinya perjalanan memakan waktu 90 menit. Tapi kalau saya berangkat 5.30, waktu perjalanan akan molor sampai dua jam. Begitu seterusnya. Hingga kadang waktu perjalanan mencapai 2,5 – 3 jam. Prihatin.
Jakarta. Semua orang lari-lari. Terbirit-birit dengan waktu.
Nyda pagi ini: jogging sambil menyeberang jalan, sambil melewati pelataran Plasa Senayan dihibur dengan Heard ‘Em Say-nya Kanye West feat. Adam Levine (Maroon 5), dibuat ngiler dengan bau kopi Starbucks, yang bahkan belum menurunkan kursi-kursinya. Tiba di cubicle, IP phone saya menunjukkan jam 6.40. Dan sepatu yang menginjak sayuran di pasar tadi, kini mendarat di atas karpet lurik abu-abu bercampur dengan partikel debu yang bersembungi di serat-serat karpet. Simbol penduduk sub-urban yang bertitel sarjana dan seringnya dicap social climber. Pagi ngebis, sampe kantor adem nga-ac. Selamat pagi!
Tuesday, March 9, 2010
Monday, March 8, 2010
Mulai di Senin, Dari Angka 0
Senin adalah hari pertama kerja setelah libur di Sabtu dan Minggu.
Dan 0 adalah angka pertama dalam bilangan cacah.
Saya tidak tahu siapa yang membuat teori ini. Seperti juga teori yang telah ada, pertanyaan “mengapa” dijawab dengan “karena”.
Membosankan sungguh hidup dalam pola tertentu.
Delapan jam kerja:
1 jam nyanyi2 dan memainkan playlist.
4 jam nonton dvd
1 jam makan siang
2 jam tidur siang
Pola nyda.
Dan 0 adalah angka pertama dalam bilangan cacah.
Saya tidak tahu siapa yang membuat teori ini. Seperti juga teori yang telah ada, pertanyaan “mengapa” dijawab dengan “karena”.
Membosankan sungguh hidup dalam pola tertentu.
Delapan jam kerja:
1 jam nyanyi2 dan memainkan playlist.
4 jam nonton dvd
1 jam makan siang
2 jam tidur siang
Pola nyda.
Monday, March 1, 2010
Kesempatan
(Menulis sambil mendengarkan Postal Service: Sleeping in; tune-nya menggoyang bahu)
Berbicara soal kesempatan memang terkadang bikin keki. Ada yang bilang kesempatan datang karena keberuntungan, ada juga yang bilang kesempatan didapat karena dicari dengan kerja keras.
Saya percaya kesempatan datang di saat keyakinan bulat sudah dan jerih payah terkuras habis, tidak lupa doa yang dikomat-kamitkan di mulut dan hati.
Beberapa kenalan saya memiliki kesempatan yang saya inginkan sejak lama, namun belum kesampaian. Kadang memang mengundang dengki, tapi saya juga yakin kalau saya kurang gigih untuk mendapatkan keinginan saya. Karena saya tidak bisa merelakan delapan jam waktu tidur saya untuk mengejar mimpi.
Ada satu kenalan yang mendapat kesempatan kuliah di luar negeri dengan duit ortu, ada lagi yang di usia 23 udah semester akhir untuk gelar master-nya, belum lagi yg udah nerbitin beberapa bukunya.
Saya menghitung-hitung tabungan saya, belum cukup untuk kuliah lagi, belum juga cukup buat nerbitin buku sendiri. Harus sabar lebih, atau irit lebih lagi. Haha.
Pada dasarnya, kesempatan itu ada di depan mata, terbentang luas, cuma kita pasti milih-milih mana yang mau diambil, mana yang sesuai, mana yang bernilai.
Tapi kalau terlalu lama memilih-milih juga, risikonya kesempatan akan terbang menjauh.
Daftar kesempatan yang saya lewatkan di antaranya:
1. Menjadi penyanyi blues, mengingat Papa saya aktif di Inablues pasti jalan menjadi penyanyi blues lebih mudah dan mengingat kata Koh suara saya terbilang bagus untuk penyanyi amatir
2. Menerbitkan novel sendiri, waktu itu saya memperoleh beasiswa menulis kreatif dari Agromedia, janji mereka novel yang selesai akan dibantu penerbitannya, sayang sekali novel saya ngga maju-maju, jadi tidak ada yang bisa diterbitkan. Teman saya sesama penerima beasiswa sudah dua buku diterbitkan
3. Kuliah di Australia, waktu itu ceritanya ada yang mau membiayai kuliah saya tapi karena baru kenal saya tolak, saya paling tidak suka balas budi
Tapi saya yakin satu pintu kesempatan tertutup, pintu kesempatan lain dibuka.
Buktinya hari ini saya berhasil menulis 67 edisi newsletter tentang perusahaan tempat saya bernaung, total berarti ada 191 artikel, dalam kurun waktu 1 tahun 5 bulan. Suara saya juga sudah saya distribusikan kepada salah satu calon music director. Dan katanya ok, saya bahkan dipercaya untuk menciptakan lagu berdua dengan beliau. Soal kuliah di luar negeri masih meraba-raba memang, tapi salah satu pembaca blog ini, percaya ngga percaya, mau mensponsori buku pertama saya (mudah-mudahan yang ini tidak saya lewatkan).
Jangan lupa syukuri kesempatan-kesempatan kecil yang kadang terlupakan.
Kesempatan yang tidak saya lewatkan hari ini adalah tidur satu jam di bis dari total 2 jam perjalanan dengan rute Pamulang-Senayan. Alhamdulillah.
Raih kesempatan dan bersyukur.
Note:
Semoga tulisan saya selalu bermanfaat seperti ini, tapi tidak bohong saya lebih suka mencela orang lain dalam tulisan. Rasanya seperti dibebaskan dan paling benar. Karena itu Gandhi dan Mother Theresa cuma ada satu di dunia dan orang seperti saya jumlahnya mungkin jutaan tersebar di daerah-daerah sub-urban.
Berbicara soal kesempatan memang terkadang bikin keki. Ada yang bilang kesempatan datang karena keberuntungan, ada juga yang bilang kesempatan didapat karena dicari dengan kerja keras.
Saya percaya kesempatan datang di saat keyakinan bulat sudah dan jerih payah terkuras habis, tidak lupa doa yang dikomat-kamitkan di mulut dan hati.
Beberapa kenalan saya memiliki kesempatan yang saya inginkan sejak lama, namun belum kesampaian. Kadang memang mengundang dengki, tapi saya juga yakin kalau saya kurang gigih untuk mendapatkan keinginan saya. Karena saya tidak bisa merelakan delapan jam waktu tidur saya untuk mengejar mimpi.
Ada satu kenalan yang mendapat kesempatan kuliah di luar negeri dengan duit ortu, ada lagi yang di usia 23 udah semester akhir untuk gelar master-nya, belum lagi yg udah nerbitin beberapa bukunya.
Saya menghitung-hitung tabungan saya, belum cukup untuk kuliah lagi, belum juga cukup buat nerbitin buku sendiri. Harus sabar lebih, atau irit lebih lagi. Haha.
Pada dasarnya, kesempatan itu ada di depan mata, terbentang luas, cuma kita pasti milih-milih mana yang mau diambil, mana yang sesuai, mana yang bernilai.
Tapi kalau terlalu lama memilih-milih juga, risikonya kesempatan akan terbang menjauh.
Daftar kesempatan yang saya lewatkan di antaranya:
1. Menjadi penyanyi blues, mengingat Papa saya aktif di Inablues pasti jalan menjadi penyanyi blues lebih mudah dan mengingat kata Koh suara saya terbilang bagus untuk penyanyi amatir
2. Menerbitkan novel sendiri, waktu itu saya memperoleh beasiswa menulis kreatif dari Agromedia, janji mereka novel yang selesai akan dibantu penerbitannya, sayang sekali novel saya ngga maju-maju, jadi tidak ada yang bisa diterbitkan. Teman saya sesama penerima beasiswa sudah dua buku diterbitkan
3. Kuliah di Australia, waktu itu ceritanya ada yang mau membiayai kuliah saya tapi karena baru kenal saya tolak, saya paling tidak suka balas budi
Tapi saya yakin satu pintu kesempatan tertutup, pintu kesempatan lain dibuka.
Buktinya hari ini saya berhasil menulis 67 edisi newsletter tentang perusahaan tempat saya bernaung, total berarti ada 191 artikel, dalam kurun waktu 1 tahun 5 bulan. Suara saya juga sudah saya distribusikan kepada salah satu calon music director. Dan katanya ok, saya bahkan dipercaya untuk menciptakan lagu berdua dengan beliau. Soal kuliah di luar negeri masih meraba-raba memang, tapi salah satu pembaca blog ini, percaya ngga percaya, mau mensponsori buku pertama saya (mudah-mudahan yang ini tidak saya lewatkan).
Jangan lupa syukuri kesempatan-kesempatan kecil yang kadang terlupakan.
Kesempatan yang tidak saya lewatkan hari ini adalah tidur satu jam di bis dari total 2 jam perjalanan dengan rute Pamulang-Senayan. Alhamdulillah.
Raih kesempatan dan bersyukur.
Note:
Semoga tulisan saya selalu bermanfaat seperti ini, tapi tidak bohong saya lebih suka mencela orang lain dalam tulisan. Rasanya seperti dibebaskan dan paling benar. Karena itu Gandhi dan Mother Theresa cuma ada satu di dunia dan orang seperti saya jumlahnya mungkin jutaan tersebar di daerah-daerah sub-urban.
Monday, February 22, 2010
Yang Muda, Yang Berjaya
Sebenarnya benar juga adanya yang muda yang berkarya, suka-sukalah. Pagi ini saya bagun dengan terkaget pada jam 3 pagi, mau sholat malam rasanya berat sekali badan ini, akhirnya saya putuskan doa malam saja (pertimbangannya doa malam tidak perlu mengangkat tubuh dari atas tempat tidur dan kena air wudhu yang membuat badan tersiksa kedinginan).
Tidur lagi dan saya bangun jam 4.47. Terkaget. Berusaha tenang sambil segera bersiap-siap.
Berangkat 5.30.
Di bis saya sudah mulai terkantuk seperti biasa; terbawa ayunan rem supir bis. Pemandangan di sebelah kanan saya sungguh membuat semangat, seorang anak muda usia sekitar 26-27 tahun berlari cepat sekali seperti adegan Forrest Gump dikejar teman-temannya. Saya tidak tahu target anak muda ini, sampai melihat matanya mengarah tajam ke satu patas AC (ooo..ngejar bis tho!).
Saya jadi ingat masa SMA, saat saya juga selalu mengejar-ngejar angkutan umum, karena sudah terlambat, alasan terlambatnya karena saya menunggu radio show kesukaan saya berakhir. Dangkal memang!
Melihat anak muda yang berlari itu, saya jadi mensyukuri nikmatnya menjadi muda. Badan masih sehat, kuat berlari-lari, kuat begadang sampai pagi, kuat pulang kantor hang out lagi sama teman-teman, kuat makan sop kaki kambing dua mangkok. Whoah nikmatnya jadi muda-mudi!
Renungan ini kemudian menjadi serius. Apa yang harus hilang saat usia saya memasuki usia 30 nanti? Apakah saya akan mulai kehilangan kondisi tubuh yang fit tadi, atau saya harus kehilangan gairah hura-hura? Apakah saya mulai mati perlahan?
Pemikiran menjadi lebih serius. Apa saja yang belum saya nikmati saat saya mengalami masa muda ini? Apakah saya sudah mencoba semua wahana di Dufan? Apakah semua makanan berlemak tinggi dan penuh penyakit sudah saya coba semua? Apakah saya sudah mencoba semua yang dilarang di masa tua nanti?
Bertambah serius. Apa saja yang sudah saya lakukan di masa muda saya? Cukup bermanfaatkah? Atau hanya kemampuan standar menghabiskan gaji bulanan di mal? Apa saja karya yang sudah saya buat?
Tuhan. Kenapa saya selalu berpikir panjang dan serius seperti ini? Bahkan saat hanya melihat pria usia 26 tahun berlari mengejar patas AC. Kenapa saya tidak mengagumi saja bentuk tubuh pria itu yang bidang tegap. Yang akhirnya berhasil mengejar patas AC dan menumpanginya.
Nyda: Yang muda, yang tak berdaya dengan pemikiran-pemikiran terlalu seriusnya.
Tidur lagi dan saya bangun jam 4.47. Terkaget. Berusaha tenang sambil segera bersiap-siap.
Berangkat 5.30.
Di bis saya sudah mulai terkantuk seperti biasa; terbawa ayunan rem supir bis. Pemandangan di sebelah kanan saya sungguh membuat semangat, seorang anak muda usia sekitar 26-27 tahun berlari cepat sekali seperti adegan Forrest Gump dikejar teman-temannya. Saya tidak tahu target anak muda ini, sampai melihat matanya mengarah tajam ke satu patas AC (ooo..ngejar bis tho!).
Saya jadi ingat masa SMA, saat saya juga selalu mengejar-ngejar angkutan umum, karena sudah terlambat, alasan terlambatnya karena saya menunggu radio show kesukaan saya berakhir. Dangkal memang!
Melihat anak muda yang berlari itu, saya jadi mensyukuri nikmatnya menjadi muda. Badan masih sehat, kuat berlari-lari, kuat begadang sampai pagi, kuat pulang kantor hang out lagi sama teman-teman, kuat makan sop kaki kambing dua mangkok. Whoah nikmatnya jadi muda-mudi!
Renungan ini kemudian menjadi serius. Apa yang harus hilang saat usia saya memasuki usia 30 nanti? Apakah saya akan mulai kehilangan kondisi tubuh yang fit tadi, atau saya harus kehilangan gairah hura-hura? Apakah saya mulai mati perlahan?
Pemikiran menjadi lebih serius. Apa saja yang belum saya nikmati saat saya mengalami masa muda ini? Apakah saya sudah mencoba semua wahana di Dufan? Apakah semua makanan berlemak tinggi dan penuh penyakit sudah saya coba semua? Apakah saya sudah mencoba semua yang dilarang di masa tua nanti?
Bertambah serius. Apa saja yang sudah saya lakukan di masa muda saya? Cukup bermanfaatkah? Atau hanya kemampuan standar menghabiskan gaji bulanan di mal? Apa saja karya yang sudah saya buat?
Tuhan. Kenapa saya selalu berpikir panjang dan serius seperti ini? Bahkan saat hanya melihat pria usia 26 tahun berlari mengejar patas AC. Kenapa saya tidak mengagumi saja bentuk tubuh pria itu yang bidang tegap. Yang akhirnya berhasil mengejar patas AC dan menumpanginya.
Nyda: Yang muda, yang tak berdaya dengan pemikiran-pemikiran terlalu seriusnya.
Thursday, February 18, 2010
Pemerhati Wanita
Agak mengerikan memang meletakkan julukan “Pemerhati wanita” di tengah nama saya. Tetapi sejak zaman dahulu kala memang melekat sudah kebiasaan ini, bukan saja wanita, pria juga, pokoknya manusia. Pernah saya satu angkutan dengan dua anak SD laki-laki, mereka sedang main tebak-tebakan.
Permainannya begini: Pemain harus bisa menemukan kata lengkap dari inisial awal dan akhir yang diberikan lawan main. Contoh pertanyaannya sebagai berikut: Depannya “P” belakangnya “S”, nah jawabannya adalah “Parkir Gratis” dan letak kata tersebut ada di parkiran salah satu supermarket yang kita lewati. Dan, dengan muka komik, saya terbawa permainan mereka, celingak-celinguk cari kata yang sesuai inisial yang diberikan. Sungguh bodoh memang!
Kembali ke wanita, menurut saya wanita memang selalu menjadi objek menarik untuk diperhatikan. Bayangkan, mulai dari rambut, pilihan baju, aksesoris, sampai dandanan, lengkap semua. Objek saya pagi ini, mmmh menyenangkan. Cantik alami. Umurnya diperkirakan sekitar 18-19 tahun. Dan saya hanya mampu menangkap sosoknya dari kepala hingga dada, karena terhalang orang lain. Saya bisa jamin dirinya sehat. Rambut hitam panjang mengkilat dikuncir tinggi, mata bulat jernih, semakin indah dengan lengkungan alis hitam sempurna. Hidung tinggi. Bibir penuh dan sehat tanpa lip balm. Kulit coklat lembab sempurna, tidak terlalu berminyak atau kering.
Pakaian hari ini? Sempurna lagi. Dia memakai kemeja lengan pendek dari bahan katun jepang bermotif timbul dan bolong-bolong kecil, bagian leher dibuat sedikit lebih lebar dari kemeja pada umumnya. Warnanya peach. Seperti membawa pelangi seusai hujan yang mengguyur. Hah! indahnya makhluk Tuhan yang satu ini. Yang melengkapi kecantikannya adalah dia tidak bertingkah bak supermodel atau kontestan Miss Universe yang mengangkat dagu tinggi dengan pandangan mata “siapa saya, siapa kamu?”.
Dia juga terlihat tidak jijik berpegangan tangan pada besi bis bobrok ini. Matanya lincah kesana kemari. Memperhatikan orang. Dan seperti yang saya duga, dia pintar. Referensi saya bilang dia pintar, karena matanya menatap lama pada papan nama tempat kursus bahasa, menelaah satu per satu kata. Sama seperti saya saat pertama kali melihat papan tersebut. Bukan jaminan memang! Tapi saya yakin begitu.
Dua hari lalu, saya juga memperhatikan seorang wanita di angkutan. Anak SMIP. Pulang sekolah masih memakai jaket lengkap. Yang membuat saya menengok dan akhirnya memutuskan untuk memperhatikan dia lama adalah gerakannya mengelap keringat dengan tisu. Seperti putri-putri keraton. Tidak seperti saya yang mengelap dengan satu sapuan tisu, dia mengelap di titik-titik butir keringat satu per satu. Luar biasa. Setahu saya orang yang mengelap per butir seperti itu adalah orang yang sedang memakai make-up, tujuannya supaya tidak merusak make-up yang dikenakan. Masalahnya anak SMIP ini tidak sedang ber-make-up! Tuhan!
Gerak-gerik lainnya. Senyumnya jaim, tidak lepas. Matanya melirik-melirik, halus tapi mau. Dan di cuaca yang panas itu, rambutnya dibiarkan panjang terurai, dan setiap dia merasa kepanasan dia tidak mengangkatnya penuh, dia hanya mengangkat sedikit agar memberikan efek melengkung di bawah telinga. Luar biasa wanita ini. Penggoda!
Saya tahu saya cynical dan jahat. Tapi ini lebih baik daripada berpura-pura baik dan berbudi luhur tinggi. Saya tahu saya tidak cantik-cantik amat, tapi masih lebih cantik dari anak SMIP itu. Maafkan keterusterangan saya. Saya hanya lahir dengan casing rendah hati.
Permainannya begini: Pemain harus bisa menemukan kata lengkap dari inisial awal dan akhir yang diberikan lawan main. Contoh pertanyaannya sebagai berikut: Depannya “P” belakangnya “S”, nah jawabannya adalah “Parkir Gratis” dan letak kata tersebut ada di parkiran salah satu supermarket yang kita lewati. Dan, dengan muka komik, saya terbawa permainan mereka, celingak-celinguk cari kata yang sesuai inisial yang diberikan. Sungguh bodoh memang!
Kembali ke wanita, menurut saya wanita memang selalu menjadi objek menarik untuk diperhatikan. Bayangkan, mulai dari rambut, pilihan baju, aksesoris, sampai dandanan, lengkap semua. Objek saya pagi ini, mmmh menyenangkan. Cantik alami. Umurnya diperkirakan sekitar 18-19 tahun. Dan saya hanya mampu menangkap sosoknya dari kepala hingga dada, karena terhalang orang lain. Saya bisa jamin dirinya sehat. Rambut hitam panjang mengkilat dikuncir tinggi, mata bulat jernih, semakin indah dengan lengkungan alis hitam sempurna. Hidung tinggi. Bibir penuh dan sehat tanpa lip balm. Kulit coklat lembab sempurna, tidak terlalu berminyak atau kering.
Pakaian hari ini? Sempurna lagi. Dia memakai kemeja lengan pendek dari bahan katun jepang bermotif timbul dan bolong-bolong kecil, bagian leher dibuat sedikit lebih lebar dari kemeja pada umumnya. Warnanya peach. Seperti membawa pelangi seusai hujan yang mengguyur. Hah! indahnya makhluk Tuhan yang satu ini. Yang melengkapi kecantikannya adalah dia tidak bertingkah bak supermodel atau kontestan Miss Universe yang mengangkat dagu tinggi dengan pandangan mata “siapa saya, siapa kamu?”.
Dia juga terlihat tidak jijik berpegangan tangan pada besi bis bobrok ini. Matanya lincah kesana kemari. Memperhatikan orang. Dan seperti yang saya duga, dia pintar. Referensi saya bilang dia pintar, karena matanya menatap lama pada papan nama tempat kursus bahasa, menelaah satu per satu kata. Sama seperti saya saat pertama kali melihat papan tersebut. Bukan jaminan memang! Tapi saya yakin begitu.
Dua hari lalu, saya juga memperhatikan seorang wanita di angkutan. Anak SMIP. Pulang sekolah masih memakai jaket lengkap. Yang membuat saya menengok dan akhirnya memutuskan untuk memperhatikan dia lama adalah gerakannya mengelap keringat dengan tisu. Seperti putri-putri keraton. Tidak seperti saya yang mengelap dengan satu sapuan tisu, dia mengelap di titik-titik butir keringat satu per satu. Luar biasa. Setahu saya orang yang mengelap per butir seperti itu adalah orang yang sedang memakai make-up, tujuannya supaya tidak merusak make-up yang dikenakan. Masalahnya anak SMIP ini tidak sedang ber-make-up! Tuhan!
Gerak-gerik lainnya. Senyumnya jaim, tidak lepas. Matanya melirik-melirik, halus tapi mau. Dan di cuaca yang panas itu, rambutnya dibiarkan panjang terurai, dan setiap dia merasa kepanasan dia tidak mengangkatnya penuh, dia hanya mengangkat sedikit agar memberikan efek melengkung di bawah telinga. Luar biasa wanita ini. Penggoda!
Saya tahu saya cynical dan jahat. Tapi ini lebih baik daripada berpura-pura baik dan berbudi luhur tinggi. Saya tahu saya tidak cantik-cantik amat, tapi masih lebih cantik dari anak SMIP itu. Maafkan keterusterangan saya. Saya hanya lahir dengan casing rendah hati.
Tuesday, February 16, 2010
Tabiat Indonesian
Judul saya memang menunjukkan bukan sebuah karya yang baik. Sudah benar menggunakan kata tabiat, eh malah diikuti “Indonesian”, bukan “Orang Indonesia”.
Usai makan siang, saya mendapat sms dari seorang teman, isinya:
Teman: oia nyd sy bs mnta tlg ga?
Saya: kenapa?
Teman: lo sibuk ga sekarang?
Saya: Sibuk
Teman: Oh yaudah ga jadi.
Saya: “ “
Apakah percakapan di atas terbilang wajar?
Jawab saya, jelas tidak.
Saya mempraktikkan percakapan semacam itu untuk berbisara dengan senior2 saya di kantor.
“Mas, mba? Lagi sibuk ngga? Boleh saya tanya sesuatu?
Tujuannya demi menerapkan tata krama.
Tapi kalo sama teman mah hajar saja bleh! Hehe.
Nanti kalo dia ngga mau diganggu toh dia akan bilang..betul ngga?
Atau kebanyakan masih menahan diri untuk bilang?
Apakah kalian para pembaca blog saya juga begitu?
Mengecewakan.
Entah budaya apa yang merubah saya, tapi saya yang sekarang dengan tegas akan bilang tidak untuk yang tidak nyaman. Sepertinya begitu..*mulai tidak yakin sendiri hehe.
Apakah tabiat seperti ini boleh saya golongkan sebagai tabiat orang Indonesia, yang serba tidak enakan?
Mari Indonesian! Jangan cuma Say No to Drugs, “say no” juga untuk segala sesuatu yang berlabel “bukan gue banget” atau “bukan elo banget”. Mari kita bela diri bersama-sama, bebaskan. Bayangkan sudah 350 tahun kita dijajah Belanda! Another Indonesian character! Blame it on people!
Usai makan siang, saya mendapat sms dari seorang teman, isinya:
Teman: oia nyd sy bs mnta tlg ga?
Saya: kenapa?
Teman: lo sibuk ga sekarang?
Saya: Sibuk
Teman: Oh yaudah ga jadi.
Saya: “ “
Apakah percakapan di atas terbilang wajar?
Jawab saya, jelas tidak.
Saya mempraktikkan percakapan semacam itu untuk berbisara dengan senior2 saya di kantor.
“Mas, mba? Lagi sibuk ngga? Boleh saya tanya sesuatu?
Tujuannya demi menerapkan tata krama.
Tapi kalo sama teman mah hajar saja bleh! Hehe.
Nanti kalo dia ngga mau diganggu toh dia akan bilang..betul ngga?
Atau kebanyakan masih menahan diri untuk bilang?
Apakah kalian para pembaca blog saya juga begitu?
Mengecewakan.
Entah budaya apa yang merubah saya, tapi saya yang sekarang dengan tegas akan bilang tidak untuk yang tidak nyaman. Sepertinya begitu..*mulai tidak yakin sendiri hehe.
Apakah tabiat seperti ini boleh saya golongkan sebagai tabiat orang Indonesia, yang serba tidak enakan?
Mari Indonesian! Jangan cuma Say No to Drugs, “say no” juga untuk segala sesuatu yang berlabel “bukan gue banget” atau “bukan elo banget”. Mari kita bela diri bersama-sama, bebaskan. Bayangkan sudah 350 tahun kita dijajah Belanda! Another Indonesian character! Blame it on people!
Wednesday, January 27, 2010
“Pasaran, Taste-nya bagus, Ngga Level,” kata mereka
Banyak orang yang ingin membedakan diri dari orang lain. Contoh pertama adalah saya sendiri. Kedua, sepupu saya. Ketiga, teman lama yang tidak ingin dihubungi saya lagi. Mulai dari pilihan musik, buku bacaan, cara berpakaian dan selera-selera lainnya yang sekiranya mempengaruhi pandangan orang lain atau sesuai dengan nilai pribadi.
Dan pada akhirnya semuanya mulai memuakkan saya, ada apa dengan kesamaan selera atau katakan yang lebih ekstrim menganut budaya populer?
Saya tidak malu menyanyikan Pussy Cat Dolls yang “Stick with You” atau produk lokal macam Kahitna karena memang lagu itu sesuai dengan warna vokal saya, walaupun ratusan juta wanita Indonesia mungkin menjadi groupie-nya. Dan saya berani meneriakkannya keras-keras walaupun saat itu saya sedang ber-gothic style misalnya.
Nanti jangan-jangan lama-lama orang sudah tidak ada yang berbahasa Indonesia dengan baik dan benar lagi, alasannya, tidak mau berbicara dengan bahasa yang sama dengan 200 juta orang lainnya. Sudah sinting rupanya.
Ada ungkapan klise bahwa sejarah itu berulang, saya tetap tidak dapat menduga sejarah masehi ke-berapa yang pertama kali mengusung ide “berbeda” ini. Atau memang egoisme manusia itu sendiri yang me-leading mereka untuk berbuat dan berpikir demikian.
Yah, intinya, saya sudah tidak terlalu sensitive-lah kalau ada yang bilang saya seperti cewek kebanyakan, apa yang salah dengan cewek kebanyakan? Yang perlu dicermati lebih dalam sebenarnya bukan apa pakaiannya, bagaimana selera musiknya tapi nilai apa yang mereka anut hingga mereka memilih bergaya gothic, atau mengapa mereka menilai Jack Allsopp lebih seksi daripada Justin Timberlake.
Buat saya Jack Allsopp lebih seksi karena musiknya bikin saya bergoyang. Menggairahkan hidup saya yang delapan jam stand by di depan monitor HP 1740
Dan pada akhirnya semuanya mulai memuakkan saya, ada apa dengan kesamaan selera atau katakan yang lebih ekstrim menganut budaya populer?
Saya tidak malu menyanyikan Pussy Cat Dolls yang “Stick with You” atau produk lokal macam Kahitna karena memang lagu itu sesuai dengan warna vokal saya, walaupun ratusan juta wanita Indonesia mungkin menjadi groupie-nya. Dan saya berani meneriakkannya keras-keras walaupun saat itu saya sedang ber-gothic style misalnya.
Nanti jangan-jangan lama-lama orang sudah tidak ada yang berbahasa Indonesia dengan baik dan benar lagi, alasannya, tidak mau berbicara dengan bahasa yang sama dengan 200 juta orang lainnya. Sudah sinting rupanya.
Ada ungkapan klise bahwa sejarah itu berulang, saya tetap tidak dapat menduga sejarah masehi ke-berapa yang pertama kali mengusung ide “berbeda” ini. Atau memang egoisme manusia itu sendiri yang me-leading mereka untuk berbuat dan berpikir demikian.
Yah, intinya, saya sudah tidak terlalu sensitive-lah kalau ada yang bilang saya seperti cewek kebanyakan, apa yang salah dengan cewek kebanyakan? Yang perlu dicermati lebih dalam sebenarnya bukan apa pakaiannya, bagaimana selera musiknya tapi nilai apa yang mereka anut hingga mereka memilih bergaya gothic, atau mengapa mereka menilai Jack Allsopp lebih seksi daripada Justin Timberlake.
Buat saya Jack Allsopp lebih seksi karena musiknya bikin saya bergoyang. Menggairahkan hidup saya yang delapan jam stand by di depan monitor HP 1740
Subscribe to:
Posts (Atom)