I wanna see you and say good morning
But my coffee’s coming
And that’s it I forget you
From the first sip!
You don’t wanna know how my coffee tasted
Bitter!
But I love it better than you!
Monday, October 27, 2008
Sunday, October 26, 2008
Just Let Me Go
So much pain like the falling rain
Softly sound, tightly wound
Never go, I can't let go
Softly sound, tightly wound
Never go, I can't let go
Peramal
Membuka tiap lembaran buku jurnalku hanya akan kembali menyegarkan akan ingatan-ingatan saat susah. Entah kenapa dorongan menulis begitu besar saat sedang sedih. Tapi memang keadilan bukan manusia yang mengukur begitu pula kasih sayang yang kasat mata, begitu yang kusimpulkan setelah kembali membaca jurnal.
Suatu hari ada orang yang makan siang bersamaku, dia mengaku bisa membaca pikiran, dan dia bilang aku sedang “mendung” karena ada yang sedang dipikirkan. Aku berpikir kalau aku memasang muka tanpa senyum bukankah orang tanpa pengalaman pun akan langsung membaca bahwa aku sedang sedih?
Tapi yah, untungnya berikutnya, dia memberikan penjelasan panjang lebar tentang sesuatu yang memang sedang kupikirkan, mungkin benar dia bisa membaca pikiran. Sekalipun banyak orang yang menasehati, aku tetap tidak mengerti. Semuanya berawal dari kenapa. Kenapa orang harus menginjak ketenangan orang lain demi ketenangan pribadi? Kenapa orang selalu berpura-pura menjadi baik?
Suatu hari ada orang yang makan siang bersamaku, dia mengaku bisa membaca pikiran, dan dia bilang aku sedang “mendung” karena ada yang sedang dipikirkan. Aku berpikir kalau aku memasang muka tanpa senyum bukankah orang tanpa pengalaman pun akan langsung membaca bahwa aku sedang sedih?
Tapi yah, untungnya berikutnya, dia memberikan penjelasan panjang lebar tentang sesuatu yang memang sedang kupikirkan, mungkin benar dia bisa membaca pikiran. Sekalipun banyak orang yang menasehati, aku tetap tidak mengerti. Semuanya berawal dari kenapa. Kenapa orang harus menginjak ketenangan orang lain demi ketenangan pribadi? Kenapa orang selalu berpura-pura menjadi baik?
Friday, October 17, 2008
Sesaat di bioskop..
Sebuah film adaptasi novel memang bukan hal baru, tantangannya justru bagaimana mem-visualisasi-kan beratus-ratus halaman novel tersebut menjadi sajian dua jam di bioskop? Laskar Pelangi bisa dibilang berhasil mengadaptasi, novelnya bagus, filmnya menggugah!
Sutradara, produser, penulis script, dan para kru berhasil mengangkat kejadian-kejadian unik dalam novel secara acak dan merangkainya tetap dalam satu benang merah cerita. Mengenai sinopsis cerita dan kualitasnya mungkin Anda lebih tahu.
Namun yang menarik buat saya adalah para penonton Laskar Pelangi yang terhormat, semoga setiap penonton dapat memetik sedikit pelajaran, apalagi para penonton yang telah menikmati lebih dari satu kali. Baiknya kesadaran yang kembali pada diri masing-masing itu tersentil dan bukan hanya untuk menumbuhkan malu tapi juga sebentuk tindak nyata, seperti tidak membuang sampah sembarangan di dalam bioskop setelah menyaksikan film yang begitu edukatif atau menyerukan "ah itu kan cuma film". Dan aku maklum atas nama kebeliaan namun malu atas nama bangsa.
Mungkin memang sebuah bangsa terdiri atas penduduk yang pintar dan tidak terlalu pintar, sehingga ada sebagian yang menyerukan "ah itu kan cuma film" sementara sebagian lainnya menjadikan film itu sebuah teladan.
Tidak melulu menyerah pada realita, mengkhianati diri sendiri dengan lantang berseru "semua hal baik dan indah hanya terjadi di film" karena sesungguhnya diri yang khianat tersebut menjauhkan hal baik dan indah terjadi pada dunia nyata yang kita jalani.
Demikian agar menjadi pemikiran, tujuan dari eksistensi sebuah film bermutu.
Mungkin memang sebuah bangsa terdiri atas penduduk yang pintar dan tidak terlalu pintar, sehingga ada sebagian yang menyerukan "ah itu kan cuma film" sementara sebagian lainnya menjadikan film itu sebuah teladan.
Tidak melulu menyerah pada realita, mengkhianati diri sendiri dengan lantang berseru "semua hal baik dan indah hanya terjadi di film" karena sesungguhnya diri yang khianat tersebut menjauhkan hal baik dan indah terjadi pada dunia nyata yang kita jalani.
Demikian agar menjadi pemikiran, tujuan dari eksistensi sebuah film bermutu.
Thursday, September 18, 2008
Sepatah Dua Patah
Segala sesuatu yang kita paksakan memang tidak pernah mengenakkan, hanya menyesakkan.
Saat itu diri kita terpecah2 antara ingin menjadi orang yang baik dan mengerti orang lain atau orang jahat dan mengerti diri sendiri.
Aku buat term seperti itu karena di sini, di lingkungan-ku, nilai seperti itu yang dijunjung tinggi.
Nilai yang berslogan keadilan tapi penuh penindasan!
Ada orang yang berani dan pengecut kata seseorang, dia punya definisi sendiri, aku juga punya. Berdasar pengalamanku sekarang, aku orang yang pengecut.
Aku tidak berteriak keras membela diri.
Aku membenci kaum oportunis, tapi kini aku ingin sekali menjadi seperti mereka, berada di tengah2 bukan meyakini sesuatu yang penuh pro dan kontra.
Aku ingin sekali hidup tenang...tapi ternyata definisi hidup tenang sekarang adalah meyakini kita paling benar dan menginjak-injak ketenangan orang lain.
Aku selalu cinta kedamaian bukan kedamaian yang penuh senyum dan pikiran picik di dalamnya, tapi kedamaian hidup menyendiri dalam hutan, bermain air sungai, dan bangun menginjak embun rumput dalam setiap pelarian.
Bila tiba waktuku nanti, aku tahu orang2 akan mencari arti hidupku, meneliti setiap buku yang kutulis dengan nama berganti namun rasa yang sama.
Rasa yang menjunjung tinggi nilai2 nurani bukan materi.
Someone ever called me 'naive' and I am proud of that.
At least, I have belief in this world, that there are some places, human, hearts, that put me first. Look me deep.
Belief that I should stand for, struggle with tears and open heart to accept the way I am.
I have a right to hate, to hate someone who tries me to be 'normal'.
Saat itu diri kita terpecah2 antara ingin menjadi orang yang baik dan mengerti orang lain atau orang jahat dan mengerti diri sendiri.
Aku buat term seperti itu karena di sini, di lingkungan-ku, nilai seperti itu yang dijunjung tinggi.
Nilai yang berslogan keadilan tapi penuh penindasan!
Ada orang yang berani dan pengecut kata seseorang, dia punya definisi sendiri, aku juga punya. Berdasar pengalamanku sekarang, aku orang yang pengecut.
Aku tidak berteriak keras membela diri.
Aku membenci kaum oportunis, tapi kini aku ingin sekali menjadi seperti mereka, berada di tengah2 bukan meyakini sesuatu yang penuh pro dan kontra.
Aku ingin sekali hidup tenang...tapi ternyata definisi hidup tenang sekarang adalah meyakini kita paling benar dan menginjak-injak ketenangan orang lain.
Aku selalu cinta kedamaian bukan kedamaian yang penuh senyum dan pikiran picik di dalamnya, tapi kedamaian hidup menyendiri dalam hutan, bermain air sungai, dan bangun menginjak embun rumput dalam setiap pelarian.
Bila tiba waktuku nanti, aku tahu orang2 akan mencari arti hidupku, meneliti setiap buku yang kutulis dengan nama berganti namun rasa yang sama.
Rasa yang menjunjung tinggi nilai2 nurani bukan materi.
Someone ever called me 'naive' and I am proud of that.
At least, I have belief in this world, that there are some places, human, hearts, that put me first. Look me deep.
Belief that I should stand for, struggle with tears and open heart to accept the way I am.
I have a right to hate, to hate someone who tries me to be 'normal'.
Subscribe to:
Posts (Atom)