Sebuah film adaptasi novel memang bukan hal baru, tantangannya justru bagaimana mem-visualisasi-kan beratus-ratus halaman novel tersebut menjadi sajian dua jam di bioskop? Laskar Pelangi bisa dibilang berhasil mengadaptasi, novelnya bagus, filmnya menggugah!
Sutradara, produser, penulis script, dan para kru berhasil mengangkat kejadian-kejadian unik dalam novel secara acak dan merangkainya tetap dalam satu benang merah cerita. Mengenai sinopsis cerita dan kualitasnya mungkin Anda lebih tahu.
Namun yang menarik buat saya adalah para penonton Laskar Pelangi yang terhormat, semoga setiap penonton dapat memetik sedikit pelajaran, apalagi para penonton yang telah menikmati lebih dari satu kali. Baiknya kesadaran yang kembali pada diri masing-masing itu tersentil dan bukan hanya untuk menumbuhkan malu tapi juga sebentuk tindak nyata, seperti tidak membuang sampah sembarangan di dalam bioskop setelah menyaksikan film yang begitu edukatif atau menyerukan "ah itu kan cuma film". Dan aku maklum atas nama kebeliaan namun malu atas nama bangsa.
Mungkin memang sebuah bangsa terdiri atas penduduk yang pintar dan tidak terlalu pintar, sehingga ada sebagian yang menyerukan "ah itu kan cuma film" sementara sebagian lainnya menjadikan film itu sebuah teladan.
Tidak melulu menyerah pada realita, mengkhianati diri sendiri dengan lantang berseru "semua hal baik dan indah hanya terjadi di film" karena sesungguhnya diri yang khianat tersebut menjauhkan hal baik dan indah terjadi pada dunia nyata yang kita jalani.
Demikian agar menjadi pemikiran, tujuan dari eksistensi sebuah film bermutu.
Mungkin memang sebuah bangsa terdiri atas penduduk yang pintar dan tidak terlalu pintar, sehingga ada sebagian yang menyerukan "ah itu kan cuma film" sementara sebagian lainnya menjadikan film itu sebuah teladan.
Tidak melulu menyerah pada realita, mengkhianati diri sendiri dengan lantang berseru "semua hal baik dan indah hanya terjadi di film" karena sesungguhnya diri yang khianat tersebut menjauhkan hal baik dan indah terjadi pada dunia nyata yang kita jalani.
Demikian agar menjadi pemikiran, tujuan dari eksistensi sebuah film bermutu.
No comments:
Post a Comment