Membuka tiap lembaran buku jurnalku hanya akan kembali menyegarkan akan ingatan-ingatan saat susah. Entah kenapa dorongan menulis begitu besar saat sedang sedih. Tapi memang keadilan bukan manusia yang mengukur begitu pula kasih sayang yang kasat mata, begitu yang kusimpulkan setelah kembali membaca jurnal.
Suatu hari ada orang yang makan siang bersamaku, dia mengaku bisa membaca pikiran, dan dia bilang aku sedang “mendung” karena ada yang sedang dipikirkan. Aku berpikir kalau aku memasang muka tanpa senyum bukankah orang tanpa pengalaman pun akan langsung membaca bahwa aku sedang sedih?
Tapi yah, untungnya berikutnya, dia memberikan penjelasan panjang lebar tentang sesuatu yang memang sedang kupikirkan, mungkin benar dia bisa membaca pikiran. Sekalipun banyak orang yang menasehati, aku tetap tidak mengerti. Semuanya berawal dari kenapa. Kenapa orang harus menginjak ketenangan orang lain demi ketenangan pribadi? Kenapa orang selalu berpura-pura menjadi baik?
Sunday, October 26, 2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment