Wednesday, November 11, 2009

Commuter

MGMT
Time To Pretend

I'm feeling rough, I'm feeling raw, I'm in the prime of my life.
Let's make some music, make some money, find some models for wives.
I'll move to Paris, shoot some heroin, and fuck with the stars.
You man the island and the cocaine and the elegant cars.

This is our decision, to live fast and die young.
We've got the vision, now let's have some fun.
Yeah, it's overwhelming, but what else can we do.
Get jobs in offices, and wake up for the morning commute.
Forget about our mothers and our friends
We're fated to pretend
To pretend
We're fated to pretend
To pretend

I'll miss the playgrounds and the animals and digging up worms
I'll miss the comfort of my mother and the weight of the world
I'll miss my sister, miss my father, miss my dog and my home
Yeah, I'll miss the boredom and the freedom and the time spent alone.

There's really nothing, nothing we can do
Love must be forgotten, life can always start up anew.
The models will have children, we'll get a divorce
We'll find some more models, everything must run it's course.

We'll choke on our vomit and that will be the end
We were fated to pretend
To pretend
We're fated to pretend
To pretend
(lagu ini menjadi pengiring saat saya menulis)

Menjadi commuter, bisa membosankan, bisa yah menarik untuk dimanfaatkan.
Saya jelas tipe yang memanfaatkan.
Setiap harinya, saya bangun jam 5 pagi, menyiapkan pakaian kerja, mandi, berpakaian, naik ke kamar adik saya dan berteriak memanggil namanya minimal lima kali (baru turun setelah dia menyibak selimut dan matanya bertemu mata saya *tatapan saya mewakili kata-kata "cepat turun sekarang, atau saya terlambat dan kamu kena amukan")

Motor berjalan keluar dari kompleks, jalan raya, kampung, jalan raya lagi dan sampailah di stasiun.
Turun untuk mengantri beli tiket.
Berjalan ke arah "Ambung" (anak kecil, tukang koran langganan saya, menunggu kembalian dan berjalan ke tempat dimana saya selalu menunggu kereta datang.
Titik yang sama setiap harinya dan berdiri di samping orang yang sama dan berbeda.
Koran di tangan hanya menjadi aksesoris tambahan, karena saya akan membacanya di kantor.
Terlalu sayang melewatkan pemandangan "morning commute" ini untuk membaca koran.
Yang saya hapal, para commuter standar umumnya memegang koran, blackberry, ipod, atau bagi para wanita yg membawa dua tas, mereka sudah sibuk sendiri dengan barang bawaan atau sekedar merapikan pakaian dan rambut.

Masuk kereta berebutan, keluar kereta berebutan.
Artinya, semua orang semangat bekerja?
Salah! Mereka terbawa pola utama!
Terburu-buru melakukan segala sesuatunya tanpa mampu menikmati setiap detik yang berjalan dalam setiap hari, setiap perjalanan, setiap pengalaman.
Saya penikmat pemandangan itu.
Pemandangan orang-orang yang "fated to pretend" kata MGMT.
Berbincang, membaca dan bekerja diselesaikan dalam satu hembusan.
Terengah-engah dan menuntut jam tidur lebih atau bersungut-sungut mengaku hidup di Jakarta itu keras.

Saya bisa menghabiskan waktu berlama-lama di kereta hanya untuk memperhatikan detail kereta atau memandang ke bawah, ke tumpukan sandal dan sepatu atau menatap ke atas memperhatikan ekspresi lelah, bahagia, bengong dari commuter lain.

Dan tidak pernah ada kata membosankan.
Tidak ada kepura-puraan.

Pencinta Jakarta.

1 comment:

Davi Satriawan said...

kesel...komen yang udah gue tulis ke apus dan gue lupa copy....hhhhh!!!