Ksatria Diplomatis
Aku masih sangat ingat dia berusaha untuk mempertahankan wajah diplomatisnya, terutama saat merasa terluka namun tidak ingin terlihat terluka, saat itu justru luka semakin terlihat jelas. Bibirnya mengatup rapat, menyembunyikan sederet barisan gigi putih bersih, kedua matanya membuka lebar memastikan pada lawan bicaranya bahwa tidak ada genangan air apapun di
Aku tersenyum dalam hati. Bila dia piker, dia adalah ksatria berkuda putih yang selalu siap menjemputku, yang selalu menjadi impian setiap wanita, dia salah. Aku yakin dia ksatria berkuda putih yang memiliki satu nyawa, yang tetap akan tergelincir bila kudanya mengarungi lautan, ksatria yang akan jatuh bila ada beribu panah api ditembakkan ke tubuhnya, sekaligus ksatria yang akan merelakan kudanya dinaiki nenek beserta cucunya yang miskin yang sedang berjalan jauh menuju sungai. Karena aku yakin dia adalah ksatria baik hati yang hanya manusia biasa.
Dan aku juga bukan wanita biasa. Aku adalah wanita yang merekam kehidupan. Aku adalah wanita ksatria. Jarang menunggu dijemput kuda putih. Aku memilih berjalan daripada menunggu lama. Tidak jarang aku menunggang kudaku sendiri. Mengumpulkan ranting sendiri.
Lama kelamaan hening beranjak. Aku tersenyum sambil menatapnya.
“Kamu cemburu,
“Ngga…yah…itukan keputusan lo…hak lo…” jawabnya dingin.
Aku sudah sangat hapal dengan kebiasaannya ber-gue-elo saat gusar.
“Ya udah kalo gitu…ada yang masih mau dibicarakan?” tanyaku.
“Aku rasa ngga ada, lagian aku masih ada janji lain.” Nada bicaranya terburu-buru sambil bolak-balik memeriksa jam tangannya.
Hmm…orang angkuh, batinku.
Entah jurus apa lagi berikutnya, yang sudah sangat kuhapal, dialah yang akan pertama kali mengirim pesan, berpura-pura tidak ada masalah apa-apa sebelumnya. Jurus terjitu untuk tidak mengambil pusing masalah adalah lari dari masalah. Lari dari masalah salah satunya dengan berpura-pura masalah itu tidak pernah ada. Dan kita adalah tetap pasangan yang serasi.
Buat dia. Laki-laki kuat. Laki-laki melindungi. Perempuan rapuh. Perempuan dilindungi. Buat aku. Laki-laki kuat. Perempuan kuat. Laki-laki lemah. Perempuan lemah. Laki-laki, perempuan, sama. Hubungan laki-laki perempuan juga begitu, kadang kuat, kadang lemah, kadang harmonis, kadang berselisih. Sama seperti kehidupan itu sendiri yang kadang mulus, kadang juga berliku. Sama seperti cinta, kadang putih, kadang bernoda. Tidak ada yang sempurna.
Yang paling membuatku tidak nyaman adalah dia selalu berusaha menjadi pasangan yang sempurna. Sementara aku sangat percaya pada ketidaksempurnaan. Sesuatu yang sempurna seperti dia terasa tak nyata terkadang bagiku.
Tulalit. Tulalit. Satu pesan diterima.
Sender: Lover
Kamu lg dimana sekarang? =) How’s
Ya Tuhan…apa disini Cuma aku satu-satunya orang yang punya kesadaran penuh? Apa maksudnya “How’s
Aku tidak membalas pesan konyol tersebut. Apa dia mengharapkan aku membalas dengan isi: “Great day 4 me, km dimana? Udh mkn blm?” Nope! Aku ngga mau ambil bagian dalam melodrama ini! Kalau dia berpikir dengan logika. Aku bertindak dengan hati, berpikir dengan hati. Saat hatiku bilang ada yang tidak beres disini, maka itulah yang aku yakini, itulah realitanya. Kalau menurut logikanya, cara berpikirku rumit. Karena memang aku yakin, kehidupan pun rumit. Kalau dia piker aku mempersulit keadaan. Nope! Aku Cuma bersikap menerima kalau kehidupan itu rumit dan kita tidak akan selalu bahagia seperti dalam cerita-cerita, tetapi tidak juga selalu mengharu biru. Karena selalu ada jalan dan di saat sulit begini, aku yakin lebih baik bertatap muka dan menghadapi kepahitan daripada menelan bulat-bulat sesuatu yang sama sekali tidak kita suka.
Aku kecewa kenapa dia tidak menyalahkanku atau menanyakan alasan kenapa aku berbuat demikian. Kenapa dia memilih bersikap seolah tidak terjadi apa-apa? Karena kalau dia mau membuka mata, aku tidak butuh ksatria, aku butuh teman di saat senang atau menderita, itu juga kalau dia mau belajar dari permasalahan sekarang. Intinya aku tidak suka ksatria dengan strategi perangnya, dengan prinsip membunuh atau dibunuh, aku tidak menganggap berpikir dengan logika itu kekuatan ksatria, karena bisa jadi justru logika yang membunuh nuraninya. Lalu ksatria apa yang bertahan di
Aku menyesal pernah ada perselisihan seperti ini, tapi aku yakin aku belajar sesuatu dari peristiwa ini. Seperti yang aku pernah bilang…semuanya akan kembali pada diri kita masing-masing, karena setiap orang punya persoalan dan kehidupannya sendiri-sendiri. Aku sebenarnya kecewa banget sama perilaku dan perlakuan bapak ksatria ini, tapi jadi belajar berempati juga. Belajar mengerti, belajar berpikir bagaimana cara berpikir orang, sudut pandang dia, keinginan dia, ambisi dia.
I quit. Aku telepon ksatria setelah dua minggu tidak ada kabar sama sekali. Dan dia bilang it’s over! Katanya dia sengaja tidak menghubungiku karena memang tidak mau terlalu dekat lagi, Karena dia mau pergi jauh. Aku kecewa banget…karena dia tidak menjelaskan apapun. Setidaknya memberi kabar tentang keputusan terakhirnya ini. Sering kali orang yang kita sayang tidak dapat membaca pikiran kita. Pikiran yang 24 jam hanya berputar tentang dia dan dunia di sekitarnya.
Mmh…you know what God? Sebenarnya aku selalu memimpikan kehidupan cinta para putri-putri, saat membaca kisah-kisah mereka aku Cuma ingat satu putri punya satu pangeran. Tapiii…kenapa berbeda sama kehidupan percintaan aku ya? Aku sudah berganti-ganti banyak cowok dan tidak tahu mana yang sebenarnya “pangeran” aku.
Aku mau komitmen sama satu orang sampai disahkan lembaga pernikahan, sampai melewati umur 30, 40, 50, 100, sampai punya anak dua atau tiga, sampai rambut kita memutih, sampai kita check-up ke rumah sakit bareng, sampai dia matiin TV pas aku ketiduran di sofa dan gendong aku ke kamar, sampai aku bisa merealisasikan menulis buku-ku sendiri suatu hari nanti, sampai aku bisa bikin film sendiri…sampai dia masangin gigi palsuku (eh, yang gigi palsu ngga jadi deh…aku mau gigi aku tetap utuh sampai oma-oma nanti ya Allah, please…) aku mau dia ada dalam setiap moment mulai hari ini dan selamanya, begitu juga aku untuk dia…
Sender: Ksatria-Jerman
Kalo suruh gambarin kamu dalam 3 kata *mikir dulu* hm…you are a marvel, unique n complicated ;) Bales dunk, kalo aku apa? 12:08 6-Jul-2006
Sender: Ksatria-Jerman
Alhamdulillah =) Yuhuuuw…aku senang banget! Aku berharap banget mudah-mudahan kita bs langgeng y, I’ll do my best… 23:23 6-Sept-2006
Aku membuka-buka lagi inbox ponselku. Pesan-pesan darinya memang sulit untuk dihapus begitu saja. Tapi yang begitu mengena adalah pesan terakhir darinya: That’s life! Tiga kata itu begitu menyakitkan, tiga kata yang sanggup membuat perjalanan dari Bintaro ke rumah selama 45 menit begitu panjang dan beruraian air mata. Air mata terakhir karena tidak ada yang lebih menyakitkan dari kata-kata tersebut.
Dua bulan kemudian.
Tilulit. Tilulit.
“Halo?” Aku.
“Mmh…ini aku.” Ksatria.
“Owh.” Aku.
“Aku mau pamit, besok aku sudah mulai dinas di Batam. Aku juga mau minta maaf kalau ada salah sama kamu. Kamu apa kabar?” Ksatria.
“Baik. Aku juga minta maaf. Kamu disana hati-hati ya…” Aku.
“
“Apa?” Aku.
“Mmh…” Ksatria.
“Mm?” Aku.
“Ngga jadi…kamu istirahat aja ya, maaf yah malam-malam telepon. Jaga diri baik-baik yah…” Ksatria.
Klik.
Buat aku sesuatu yang tidak dikatakan, tidak akan tersampaikan.
2 comments:
kayanya gw tau tuh nid itu sapa hehe.
nice to have him as an in law to be :)
gw link ya blognya
-noni-
noninoni.blogdrive.com
aswrwb =)
met kenal nid, gw calon istri ksatria jermannya hehe. we're reading this together&he sez "Hi" ^^
nice to know u, tho x)
-z
*gunyugunyu.blogdrive.com*
Post a Comment