Thursday, July 31, 2008

Kisah Demokrasi dalam Demonstrasi

Kisah Demokrasi dalam Demonstrasi

Negara Indonesia adalah negara demokrasi. Ini sudah tidak asing lagi tapi kalau Indonesia negara demonstrasi? Kenaikan BBM sejak 23 Mei 2008 lalu memicu demonstrasi-demonstrasi yang mewarnai Jakarta setiap harinya mulai dari Bundaran HI sampai Istana Negara, tujuannya satu, menolak kenaikan BBM.

Sedetik sebelum saya benar-benar berada dalam sebuah demonstrasi, saya yakin ada cara lain yang lebih baik, lebih efektif untuk menyuarakan sebuah aspirasi. Sampai akhirnya pada tanggal 21 Mei lalu saya mengalaminya sendiri, tepatnya menyaksikan dengan mata kepala sendiri bahwa cara lain tidak ada, mereka membuat cara baru, cara mereka sendiri untuk didengar di tengah-tengah gedung megah segitiga emas Jakarta. Kemudian saya membayangkan apa rasanya menatap para demonstran dari balik kaca, dari kenyamanan sejuknya air conditioner dan sofa empuk.

Saya melanjutkan long march bersama para demonstran, merasa bersyukur karena bukan lagi orang yang hanya bisa menyaksikan dari balik kaca, dari balik layar televisi, dari balik kenyamanan. Bersyukur karena turut turun ke jalan, berpartisipasi dan meng-apresiasi sebuah aspirasi, di bawah teriknya matahari, dalam suasana yang “membangkitkan”.

Siang terus berjalan dan para demonstran tetap tegak berdiri. Keinginan yang terus diteriakkan di tengah-tengah gedung-gedung tinggi, ribuan orang yang teriak di jalan bahkan tidak menganggu kenyamanan para socialite yang sedang menikmati lunch. Gambaran yang ironis dalam satu hari di Jakarta.

Long march terus berjalan, di Jl. M. Husni Thamrin, barisan depan melakukan aksi tidur di tengah jalan. Menurut saya ada kepuasan pribadi yang mereka rasakan. Kepuasan sebagai penguasa jalan, merasakan jalan milik sendiri dan dipandang semua orang, menjadi pusat perhatian. Ada kepuasan yang hanya bisa dirasakan bukan dilihat, bukan juga dibariskan dalam lisan kata. Terbakar matahari, suara habis, badan penuh, keringat, semua terbayar dengan kepuasan sebagai penguasa tadi.

Dalam demo siang ini, potret keramahan Indonesia tetap terasa antara pedagang asongan dengan pembeli, yang kebanyakan para demonstran, pemulung dengan para peminum, polisi dengan pendemo. Ternyata menyuarakan isi hati ngga harus ngotot. Saya memperhatikan komunikasi yang terdengar akrab antara polisi barisan depan yang berfungsi sebagai border line dan mahasiswa barisan depan. Mereka bertukar senyum. Namun saya yakin sedetik kemudian apabila terdengar sebuah komando dari masing-masing kubu maka mereka mampu saling membunuh.

Entah sebuah kebetulan atau apa, kaki ini mengantarkan saya pada sebuah demonstran, seorang bapak usia 40 tahun, warga Desa Suka Mulya, Kecamatan Rumpi, Bogor Barat, setelah ngobrol-ngobrol beberapa menit saya mengetahui pekerjaannya sebagai petani, anaknya 6 orang, yang paling besar masih duduk di bangku SMA berumur 19 tahun, paling kecil masih usia 4 tahun. Saat ditanyakan soal perasaan, beliau langsung bilang “senang”. Saat ditanya apakah ada rasa bangga, beliau juga berseru cepat “bangga”. Tidak ada banyak kata yang keluar dari mulut kering Pak Mukrie ini, beliau pun tidak cepat menangkap pertanyaan yang saya lontarkan, apalagi pada saat menjawabnya, entah karena tidak fokus atau memang kata-kata saya sulit ditangkap.

Namun begitu beliau lancar menceritakan kasus sengketa tanah di Bogor seluas 449 hektar, katanya Pak Mukrie ini juga pernah mendemokan kasus ini di depan gedung DPR tahun 2006 lalu. Sekarang kasus sengketa tanah ini sedang di-lobby dengan pihak DPR, bisakah Anda membayangkan seorang petani me-lobby DPR, apa yang akan mereka katakan? Saya membayangkan para pejabat ini akan bicara panjang lebar dengan istilah-istilah yang sulit dimengerti oleh para petani, tapi isi pembicaraannya tetap saja menguntungkan sebelah pihak, yaitu para pejabat tadi.

Ternyata Pak Mukrie termasuk warga Bogor yang aktif ikut demo, ditanya motivasinya apa, beliau bilang bangga saja sebagai rakyat bisa menyuarakan isi hati. “Anak istri saya di kampung juga tahu dan mendukung begitu juga dengan warga kampung saya, perwakilan dari kecamatan kami ada sekitar 35 orang,” ungkap Pak Mukrie.

Bila kita membayangkan ada “oknum” di balik semua ini, lalu coba tanya lebih jauh siapa oknum di balik Pak Mukri yang bersama-sama warga desanya berangkat jam 6 pagi dan stand by di bundaran HI sejak jam 9.30 WIB? Oknum yang ada di balik Pak Mukrie adalah anak istrinya dan segenap warga kecamatan Rumpi. Pak Mukrie tidak ikut bernyanyi bersama barisannya, tidak memakai kaos seragam seperti yang lainnya, beliau hanya mengenakan kemeja biru muda yang telah lusuh, celana bahan dan sepasang sandal. Saya selalu berjalan tidak jauh darinya, di belakangnya, dari samping barisan, atau mengamati samar-samar dari balik kerumunan. Saya tak melihatnya minum atau makan, atau ada orang lain yang menghampirinya memberi minuman botol seperti yang lain. Beliau hanya berjalan di pinggir barisan atau terkadang istirahat sejenak dan mengejar gerombolannya kembali. Saat mencapai istana saya kehilangan jejaknya, karena aliansi lain bergabung dari berbagai penjuru.

Beliau telah beberapa kali ikut demo namun belum ada hasil nyata. Pekerjaan sebagai petani pun ditinggal. “Ngga apa-apa untuk membela rakyat,”ungkapnya. Seperti yang selalu diajarkan guru-guru kita di sekolah, demokrasi adalah “dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat”. Selamat Pak Mukrie, Anda telah mengamalkan apa yang Anda pelajari!

No comments: