manner:
a person's outward bearing; way of speaking to and treating others: She has a charming manner.
Apakah saya tidak punya good manner? Relatif.
Saya tinggal di Indonesia, tetapi manner saya jelas berbeda di antara sesama orang Indonesia, perhatikan juga usia. Perhatikan lagi gender. Yang paling penting perhatikan situasi. Karena saat sedang tidak mood, Nyda Aulia tidak peduli manner! Indikasi tidak mood? Ada segala sesuatu di luar plan.
Saya tidak akan bilang ya, kalau ada yang memberi makanan di saat saya sedang fokus dengan pekerjaan, atau saya tidak suka makanan itu. Atau yah, sebenarnya semuanya tergantung situasi. Kalau saya sedang mood, ya saya terima dan makan, karena pada dasarnya saya tidak suka membuang makanan. Tapi kalau sedang tidak mood, saya akan tolak apapun itu, termasuk makanan, so please everybody jangan bilang saya ngga tahu terima kasih, menolak rezeki atau apapun. Saya hanya perlu waktu untuk meluruskan mood.
The way I talk? I just love talking straight to the point, straight to its meaning, then I can go back to my work. Exception to one person and my family and people I decide.
Treating others? I treat others the way they treat me and since I avoid conflicts, I just being silent to whom I don’t like.
That's all! Argh!
Tuesday, September 21, 2010
Tuesday, August 24, 2010
Membaca Figur
Mungkin memang tidak semua orang memiliki keahlian yang saya miliki. Well, belum tentu ini sebuah keahlian juga sih. Ok, mari kita coba: Apa yang Anda pikirkan saat melihat ada penjual remote pinggir jalan paruh baya melayani pembeli yang merupakan seorang pegawai swasta rendahan yang sama paruh baya?
Saat melihat pemandangan itu, di kepala saya terbersit kalau waktu cepat sekali berjalan. Hingga usia paruh baya, penjual remote dan pegawai swasta rendahan belum sempat mengumpulkan uang untuk dinikmati di hari tua, atau mungkin harta simpanan tidak cukup tertib dijaga, jadi raib sebelum dinikmati di usia senja.
Mungkin juga semua pemikiran yang berseliweran tadi salah semua.
Walaupun tidak selancar Temple Grandin, sebagai orang visual, saya menikmati perjalanan pulang pergi ke kantor. Saya merekam setiap gerakan, pakaian yang melekat, bentuk dan kejadian. Sambil merekam, serangkaian ide ini itu berseliweran, menyimpulkan profesi, sifat, minat kecenderungan bahkan nasib dari masing-masing objek yang saya nikmati.
Sangat subjektif memang. Tapi saya menikmati aktivitas rutin itu.
Mungkin kalau Anda hadir di hadapan saya sekarang, saya dapat membaca figur seperti apa seorang Anda.
Saat melihat pemandangan itu, di kepala saya terbersit kalau waktu cepat sekali berjalan. Hingga usia paruh baya, penjual remote dan pegawai swasta rendahan belum sempat mengumpulkan uang untuk dinikmati di hari tua, atau mungkin harta simpanan tidak cukup tertib dijaga, jadi raib sebelum dinikmati di usia senja.
Mungkin juga semua pemikiran yang berseliweran tadi salah semua.
Walaupun tidak selancar Temple Grandin, sebagai orang visual, saya menikmati perjalanan pulang pergi ke kantor. Saya merekam setiap gerakan, pakaian yang melekat, bentuk dan kejadian. Sambil merekam, serangkaian ide ini itu berseliweran, menyimpulkan profesi, sifat, minat kecenderungan bahkan nasib dari masing-masing objek yang saya nikmati.
Sangat subjektif memang. Tapi saya menikmati aktivitas rutin itu.
Mungkin kalau Anda hadir di hadapan saya sekarang, saya dapat membaca figur seperti apa seorang Anda.
Tuesday, August 10, 2010
Mencari Jati Diri
Agak terlambat memang. Mungkin judul di atas cuma istilah yang saya pakai saja. Semalam, saya dan tangan kanan saya membicarakan genre musik. Seperti pernah saya tulis sebelumnya, saya menyukai Kanye West sama seperti saya menyukai Postal Service. Dua subjek yang berada di track berbeda.
Dia (si tangan kanan) dan musiknya bisa menggunakan keyword NOFX dan punk rock. Saya dan musik saya, masih memilih kotak yang tepat. Sampai tadi pagi akhirnya, saya mendengar satu lagu ini di radio, Good Enough dari Dodgy. Lalu saya browsing lebih jauhlah siapa Dodgy ini. Ternyata alirannya power pop. Saya cukup amazed, mengingat beberapa waktu lalu saya sempat jatuh hati sama Tortured Soul, band pertama yang saya ketahui alirannya adalah power pop.
Mulailah saya tanya Wiki, siapa saja band power pop itu, tercengang lagi saya melihat nama-nama Semisonic, The New Pornographers, dan Fastball ada disana. Band-band yang akrab namanya di telinga saya mulai dari zaman seragam putih biru. Saya baru tau mereka termasuk power pop.
Hasil wiki sana sini, akhirnya saya mulai mengotakkan diri saya di belantara power pop. Mungkin nanti akan terbelah di belantara-belantara lain. Yah pencarian jati diri hari ini, cukup mencerahkanlah :)
Dia (si tangan kanan) dan musiknya bisa menggunakan keyword NOFX dan punk rock. Saya dan musik saya, masih memilih kotak yang tepat. Sampai tadi pagi akhirnya, saya mendengar satu lagu ini di radio, Good Enough dari Dodgy. Lalu saya browsing lebih jauhlah siapa Dodgy ini. Ternyata alirannya power pop. Saya cukup amazed, mengingat beberapa waktu lalu saya sempat jatuh hati sama Tortured Soul, band pertama yang saya ketahui alirannya adalah power pop.
Mulailah saya tanya Wiki, siapa saja band power pop itu, tercengang lagi saya melihat nama-nama Semisonic, The New Pornographers, dan Fastball ada disana. Band-band yang akrab namanya di telinga saya mulai dari zaman seragam putih biru. Saya baru tau mereka termasuk power pop.
Hasil wiki sana sini, akhirnya saya mulai mengotakkan diri saya di belantara power pop. Mungkin nanti akan terbelah di belantara-belantara lain. Yah pencarian jati diri hari ini, cukup mencerahkanlah :)
Friday, August 6, 2010
Nada-nada, blog-blog, seliwar seliwer cara pandang.
Seharian ini nada-nada yang saya dengarkan sekitar Christian Bautista, Chrisye dan yah begitulah. Namanya hidup di cubicle. Walhasil kerja saya pun jadi melelet mendengar nada mendayu-dayu. Bolak-balik baca satu paragraf ke paragraf lain, tetap ngga ngerti berita ini intinya apa. Well, pekerjaan saya menulis, jadi kerjanya ngga jauh-jauh dari baca-tulis.
Sebenarnya saya cuma mau share, saya merasa hidup saya lebih baik. Mungkin karena diskusi serius semalam dengan tangan kanan saya, akhirnya mata saya terbuka, selalu ada cara pandang lain, solusi alternatif dan lain-lain. Kadang-kadang kita lupa bukan?
Blog-blog yang saya baca belakangan pun nampaknya tidak terlalu berpengaruh lagi kini. Biarlah saya belum make photoshop atau lightroom, belum pede juga nulis pake bahasa Inggris. Biarlah saya ga bisa mengategorikan musik yang saya suka, mengingat Kanye West dan Postal Service jauh bertolak belakang.
Saya sudah lebih bisa menerima bahwa segala yang saya suka, ngga bisa dikotak-kotakkan. Begitu juga diri saya atau jenis tulisan saya atau minat saya terhadap segala sesuatunya.
Sebenarnya saya cuma mau share, saya merasa hidup saya lebih baik. Mungkin karena diskusi serius semalam dengan tangan kanan saya, akhirnya mata saya terbuka, selalu ada cara pandang lain, solusi alternatif dan lain-lain. Kadang-kadang kita lupa bukan?
Blog-blog yang saya baca belakangan pun nampaknya tidak terlalu berpengaruh lagi kini. Biarlah saya belum make photoshop atau lightroom, belum pede juga nulis pake bahasa Inggris. Biarlah saya ga bisa mengategorikan musik yang saya suka, mengingat Kanye West dan Postal Service jauh bertolak belakang.
Saya sudah lebih bisa menerima bahwa segala yang saya suka, ngga bisa dikotak-kotakkan. Begitu juga diri saya atau jenis tulisan saya atau minat saya terhadap segala sesuatunya.
Wednesday, June 30, 2010
Normal Dianggap Aneh, Aneh Dianggap Normal
Memang setiap orang punya perspektif, tapi lalu apa yang bisa saya lakukan saat sebagian besar teman saya men-justifikasi bahwa saya “aneh”. Alhamdulillah, saya selalu berteman dengan orang-orang baik, hanya saja risikonya jadi kita di-cap “paling-paling”, walaupun saya sudah bersikeras bahwa di luar sana pasti ada banyak nyda-nyda lain atau bahkan lebih-lebih dari nyda.
Saya tidak mungkin membeberkan aib-aib saya disini. Ok, mungkin akan saya ceritakan satu yang mereka anggap aneh dan baru saya alami belakangan. Dalam seminggu ini saya melihat keberadaan curut di kamar saya, saking takutnya, selama dua malam berturut-turut saya tidur dengan mama saya. Saat saya kembali tidur di kamar, ketakutan itu menjelma dalam mimpi saya.
Mimpi itu saya beri nama: Pesan dari Sang Curut
Begini ceritanya:
Dalam mimpi, si curut yang sedang saya buru tiba-tiba berbicara: “Ampuni saya, saya cuma disuruh,” cicitnya.
Tidak percaya begitu saja dengan cicitannya, saya pun mengikuti si curut dan sampailah saya di sebuah pabrik beras besar.
Di dalam pabrik itu ada satu proses rahasia yang menjadi kunci utama keberhasilan merek beras tersebut.
Ternyata selama ini, pemilik pabrik, memperbudak setiap anjing, kucing, tikus, dan curut yang memiliki spesifikasi bulu hitam (pengecualian untuk tikus dan curut yang menurut saya warnanya abu-abu gelap).
Para binatang berbulu “gelap” tersebut diutus untuk menyusup ke rumah-rumah, mengambil beras-beras busuk di rumah tersebut dan membawanya kembali ke pabrik. Di pabrik, saya lihat, ada sebuah alat dari beton berbentuk bulat pipih, alat tersebut telah dilengkapi dengan teknologi canggih yang bisa mengubah beras busuk menjadi beras putih.
Praktik pemutihannya dilakukan dengan cara menghamparkan beras di atas alat bulat pipih tadi kemudian menumpuknya dengan anjing, curut, tikus dan kucing dengan urutan dari atas ke bawah: anjing-kucing-tikus-curut. Pemutihan ini hanya bisa dilakukan di tepi pantai saat matahari sedang tinggi-tingginya, mengeluarkan sinar terik.
Peluh berjatuhan dari binatang-binatang gelap. Matahari pun tak gentar mengeluarkan terik. Dan voila! Beras kembali menjadi putih bersih. Butiran-butiran beras tersebut lalu siap dikemas dalam karung dan didistribusikan kembali di pasaran.
Saat karung demi karung dinaikkan ke dalam container itulah, saya bisa melihat cap beras yang sudah sangat terkenal itu. Sayang sekali saya lupa, merek apa yang tertulis.
Yah begitulah mimpi yang dianggap teman-teman saya aneh dan “nyda banget”.
Padahal tadi siang saya mulai berpikir, jangan-jangan curut di kamar itu berusaha menyampaikan pesan rahasia kepada saya melalui mimpi.
Well, kalau ada yang baca blog ini, apakah menurut kalian saya aneh?
Saya tidak mungkin membeberkan aib-aib saya disini. Ok, mungkin akan saya ceritakan satu yang mereka anggap aneh dan baru saya alami belakangan. Dalam seminggu ini saya melihat keberadaan curut di kamar saya, saking takutnya, selama dua malam berturut-turut saya tidur dengan mama saya. Saat saya kembali tidur di kamar, ketakutan itu menjelma dalam mimpi saya.
Mimpi itu saya beri nama: Pesan dari Sang Curut
Begini ceritanya:
Dalam mimpi, si curut yang sedang saya buru tiba-tiba berbicara: “Ampuni saya, saya cuma disuruh,” cicitnya.
Tidak percaya begitu saja dengan cicitannya, saya pun mengikuti si curut dan sampailah saya di sebuah pabrik beras besar.
Di dalam pabrik itu ada satu proses rahasia yang menjadi kunci utama keberhasilan merek beras tersebut.
Ternyata selama ini, pemilik pabrik, memperbudak setiap anjing, kucing, tikus, dan curut yang memiliki spesifikasi bulu hitam (pengecualian untuk tikus dan curut yang menurut saya warnanya abu-abu gelap).
Para binatang berbulu “gelap” tersebut diutus untuk menyusup ke rumah-rumah, mengambil beras-beras busuk di rumah tersebut dan membawanya kembali ke pabrik. Di pabrik, saya lihat, ada sebuah alat dari beton berbentuk bulat pipih, alat tersebut telah dilengkapi dengan teknologi canggih yang bisa mengubah beras busuk menjadi beras putih.
Praktik pemutihannya dilakukan dengan cara menghamparkan beras di atas alat bulat pipih tadi kemudian menumpuknya dengan anjing, curut, tikus dan kucing dengan urutan dari atas ke bawah: anjing-kucing-tikus-curut. Pemutihan ini hanya bisa dilakukan di tepi pantai saat matahari sedang tinggi-tingginya, mengeluarkan sinar terik.
Peluh berjatuhan dari binatang-binatang gelap. Matahari pun tak gentar mengeluarkan terik. Dan voila! Beras kembali menjadi putih bersih. Butiran-butiran beras tersebut lalu siap dikemas dalam karung dan didistribusikan kembali di pasaran.
Saat karung demi karung dinaikkan ke dalam container itulah, saya bisa melihat cap beras yang sudah sangat terkenal itu. Sayang sekali saya lupa, merek apa yang tertulis.
Yah begitulah mimpi yang dianggap teman-teman saya aneh dan “nyda banget”.
Padahal tadi siang saya mulai berpikir, jangan-jangan curut di kamar itu berusaha menyampaikan pesan rahasia kepada saya melalui mimpi.
Well, kalau ada yang baca blog ini, apakah menurut kalian saya aneh?
Tuesday, June 1, 2010
STAGNANT, tidak ada jawaban
Mungkin ada saatnya memang dalam hidup kita semuanya terasa begitu stagnant, ngga tau harus melangkah kemana, ga tau mana yang satisfying; mana yang ngga. Semuanya cuma lurus dijalanin.
Seperti juga yang saya rasakan sekarang.
Pekerjaan atau love life semuanya datar, apalagi passion saya, ini tanda-tanda apa ya?
Semoga bukan putus asa yang berkepanjangan.
Saya hanya merasa tidak perlu membuktikan apa-apa pada diri sendiri, pada orang lain.
Tidak juga merasa perlu untuk memuaskan keinginan sharing yang biasanya menjadi kebutuhan sehari-hari.
Rasanya cukup bekerja biasa, pulang dan menghabiskan wiken dengan nonton dvd atau film-film dari teman. Atau berbincang sebentar dengan keluarga, tidak ada kebutuhan meng-sms atau di-sms, tidak merasa kehilangan saat tidak ada pesan menanyakan kabar, atau suara yang berkeinginan kuat di malam hari untuk mendengar suara saya.
Mungkin kita berdua sudah lelah dan menyerah di dalam hati. Paling tidak ini bisikan yang tidak ingin didengar pasangan. Tapi diam begini saja juga tidak sehat.
Walaupun tidak ada orang lain, tapi rasanya sudah cukup fulfilled dengan kehadiran dorama-dorama itu.
-acting strong
Seperti juga yang saya rasakan sekarang.
Pekerjaan atau love life semuanya datar, apalagi passion saya, ini tanda-tanda apa ya?
Semoga bukan putus asa yang berkepanjangan.
Saya hanya merasa tidak perlu membuktikan apa-apa pada diri sendiri, pada orang lain.
Tidak juga merasa perlu untuk memuaskan keinginan sharing yang biasanya menjadi kebutuhan sehari-hari.
Rasanya cukup bekerja biasa, pulang dan menghabiskan wiken dengan nonton dvd atau film-film dari teman. Atau berbincang sebentar dengan keluarga, tidak ada kebutuhan meng-sms atau di-sms, tidak merasa kehilangan saat tidak ada pesan menanyakan kabar, atau suara yang berkeinginan kuat di malam hari untuk mendengar suara saya.
Mungkin kita berdua sudah lelah dan menyerah di dalam hati. Paling tidak ini bisikan yang tidak ingin didengar pasangan. Tapi diam begini saja juga tidak sehat.
Walaupun tidak ada orang lain, tapi rasanya sudah cukup fulfilled dengan kehadiran dorama-dorama itu.
-acting strong
Sunday, May 9, 2010
Seperti apa orang zaman sekarang mengartikan cinta?
Saya merasakannya penuh pengorbanan. Pendengaran saya, namun bagaimana, mendengarkan kisah-kisah yang berbeda. Ada satu wanita, berumur, dan katanya memiliki banyak affair. Ada satu wanita lagi, masih belia, dan katanya membina hubungan terbuka, tidak terikat dengan siapa pun, semuanya “teman”. Ada satu lagi wanita yang dipuja-puja, namun main belakang. Bukan hanya perempuan saja, saya tahu. Saya hanya kehabisan cara memaklumi yang demikian.
Biar seberapa acuh pun saya, tetap berita-berita seperti itu, membuat saya diam dan berpikir lama. Ketidaknyamanan itu kemudian tumbuh, saya mulai mengotak-ngotakkan pergaulan saya. Menjaga diri dari segala pengaruh. Dan masih bertanya, apa yang membuat hati menoleh? Alasan apa yang membuat komitmen sakral itu bisa dipatahkan? Rasa seperti apa yang tertinggal di kepala dan hati mereka?
Saya tahu hal ini bisa terjadi pada siapa saja, termasuk saya, kapan saja termasuk sekarang. Hanya saja, tetap buat saya tidak ada alasan yang membenarkan. Tinggal bilang tidak, saat rasanya sudah tidak sama, tinggal bilang tidak saat penderitaan dan pengorbanan yang dilakukan dirasa terlalu besar, tapi buat apa main bohong-bohongan? Bukankah itu bodoh?
Meyakini diri sendiri pintar berarti: tahu apa yang harus dilakukan saat ketidaknyamanan menyerang. Dan perselingkuhan tetap penyakit yang sewajarnya bermukim di kepala-kepala rendahan. Ya, ya, ya, saya tahu, dasi bukan berarti martabat yang lebih tinggi atau hak tinggi bukan keluhuran budi, tapi bukankah harga diri harusnya sejajar dengan jumlah nol yang mereka hasilkan? Bukankah banyaknya angka nol itu yang membuat mereka merasa naik harkat dan martabat?
-pengamat affair
Biar seberapa acuh pun saya, tetap berita-berita seperti itu, membuat saya diam dan berpikir lama. Ketidaknyamanan itu kemudian tumbuh, saya mulai mengotak-ngotakkan pergaulan saya. Menjaga diri dari segala pengaruh. Dan masih bertanya, apa yang membuat hati menoleh? Alasan apa yang membuat komitmen sakral itu bisa dipatahkan? Rasa seperti apa yang tertinggal di kepala dan hati mereka?
Saya tahu hal ini bisa terjadi pada siapa saja, termasuk saya, kapan saja termasuk sekarang. Hanya saja, tetap buat saya tidak ada alasan yang membenarkan. Tinggal bilang tidak, saat rasanya sudah tidak sama, tinggal bilang tidak saat penderitaan dan pengorbanan yang dilakukan dirasa terlalu besar, tapi buat apa main bohong-bohongan? Bukankah itu bodoh?
Meyakini diri sendiri pintar berarti: tahu apa yang harus dilakukan saat ketidaknyamanan menyerang. Dan perselingkuhan tetap penyakit yang sewajarnya bermukim di kepala-kepala rendahan. Ya, ya, ya, saya tahu, dasi bukan berarti martabat yang lebih tinggi atau hak tinggi bukan keluhuran budi, tapi bukankah harga diri harusnya sejajar dengan jumlah nol yang mereka hasilkan? Bukankah banyaknya angka nol itu yang membuat mereka merasa naik harkat dan martabat?
-pengamat affair
Subscribe to:
Posts (Atom)