Thursday, February 18, 2010

Pemerhati Wanita

Agak mengerikan memang meletakkan julukan “Pemerhati wanita” di tengah nama saya. Tetapi sejak zaman dahulu kala memang melekat sudah kebiasaan ini, bukan saja wanita, pria juga, pokoknya manusia. Pernah saya satu angkutan dengan dua anak SD laki-laki, mereka sedang main tebak-tebakan.

Permainannya begini: Pemain harus bisa menemukan kata lengkap dari inisial awal dan akhir yang diberikan lawan main. Contoh pertanyaannya sebagai berikut: Depannya “P” belakangnya “S”, nah jawabannya adalah “Parkir Gratis” dan letak kata tersebut ada di parkiran salah satu supermarket yang kita lewati. Dan, dengan muka komik, saya terbawa permainan mereka, celingak-celinguk cari kata yang sesuai inisial yang diberikan. Sungguh bodoh memang!

Kembali ke wanita, menurut saya wanita memang selalu menjadi objek menarik untuk diperhatikan. Bayangkan, mulai dari rambut, pilihan baju, aksesoris, sampai dandanan, lengkap semua. Objek saya pagi ini, mmmh menyenangkan. Cantik alami. Umurnya diperkirakan sekitar 18-19 tahun. Dan saya hanya mampu menangkap sosoknya dari kepala hingga dada, karena terhalang orang lain. Saya bisa jamin dirinya sehat. Rambut hitam panjang mengkilat dikuncir tinggi, mata bulat jernih, semakin indah dengan lengkungan alis hitam sempurna. Hidung tinggi. Bibir penuh dan sehat tanpa lip balm. Kulit coklat lembab sempurna, tidak terlalu berminyak atau kering.

Pakaian hari ini? Sempurna lagi. Dia memakai kemeja lengan pendek dari bahan katun jepang bermotif timbul dan bolong-bolong kecil, bagian leher dibuat sedikit lebih lebar dari kemeja pada umumnya. Warnanya peach. Seperti membawa pelangi seusai hujan yang mengguyur. Hah! indahnya makhluk Tuhan yang satu ini. Yang melengkapi kecantikannya adalah dia tidak bertingkah bak supermodel atau kontestan Miss Universe yang mengangkat dagu tinggi dengan pandangan mata “siapa saya, siapa kamu?”.

Dia juga terlihat tidak jijik berpegangan tangan pada besi bis bobrok ini. Matanya lincah kesana kemari. Memperhatikan orang. Dan seperti yang saya duga, dia pintar. Referensi saya bilang dia pintar, karena matanya menatap lama pada papan nama tempat kursus bahasa, menelaah satu per satu kata. Sama seperti saya saat pertama kali melihat papan tersebut. Bukan jaminan memang! Tapi saya yakin begitu.

Dua hari lalu, saya juga memperhatikan seorang wanita di angkutan. Anak SMIP. Pulang sekolah masih memakai jaket lengkap. Yang membuat saya menengok dan akhirnya memutuskan untuk memperhatikan dia lama adalah gerakannya mengelap keringat dengan tisu. Seperti putri-putri keraton. Tidak seperti saya yang mengelap dengan satu sapuan tisu, dia mengelap di titik-titik butir keringat satu per satu. Luar biasa. Setahu saya orang yang mengelap per butir seperti itu adalah orang yang sedang memakai make-up, tujuannya supaya tidak merusak make-up yang dikenakan. Masalahnya anak SMIP ini tidak sedang ber-make-up! Tuhan!

Gerak-gerik lainnya. Senyumnya jaim, tidak lepas. Matanya melirik-melirik, halus tapi mau. Dan di cuaca yang panas itu, rambutnya dibiarkan panjang terurai, dan setiap dia merasa kepanasan dia tidak mengangkatnya penuh, dia hanya mengangkat sedikit agar memberikan efek melengkung di bawah telinga. Luar biasa wanita ini. Penggoda!

Saya tahu saya cynical dan jahat. Tapi ini lebih baik daripada berpura-pura baik dan berbudi luhur tinggi. Saya tahu saya tidak cantik-cantik amat, tapi masih lebih cantik dari anak SMIP itu. Maafkan keterusterangan saya. Saya hanya lahir dengan casing rendah hati.

Tuesday, February 16, 2010

Tabiat Indonesian

Judul saya memang menunjukkan bukan sebuah karya yang baik. Sudah benar menggunakan kata tabiat, eh malah diikuti “Indonesian”, bukan “Orang Indonesia”.

Usai makan siang, saya mendapat sms dari seorang teman, isinya:
Teman: oia nyd sy bs mnta tlg ga?
Saya: kenapa?
Teman: lo sibuk ga sekarang?
Saya: Sibuk
Teman: Oh yaudah ga jadi.
Saya: “ “

Apakah percakapan di atas terbilang wajar?
Jawab saya, jelas tidak.
Saya mempraktikkan percakapan semacam itu untuk berbisara dengan senior2 saya di kantor.
“Mas, mba? Lagi sibuk ngga? Boleh saya tanya sesuatu?
Tujuannya demi menerapkan tata krama.
Tapi kalo sama teman mah hajar saja bleh! Hehe.
Nanti kalo dia ngga mau diganggu toh dia akan bilang..betul ngga?
Atau kebanyakan masih menahan diri untuk bilang?
Apakah kalian para pembaca blog saya juga begitu?
Mengecewakan.

Entah budaya apa yang merubah saya, tapi saya yang sekarang dengan tegas akan bilang tidak untuk yang tidak nyaman. Sepertinya begitu..*mulai tidak yakin sendiri hehe.
Apakah tabiat seperti ini boleh saya golongkan sebagai tabiat orang Indonesia, yang serba tidak enakan?
Mari Indonesian! Jangan cuma Say No to Drugs, “say no” juga untuk segala sesuatu yang berlabel “bukan gue banget” atau “bukan elo banget”. Mari kita bela diri bersama-sama, bebaskan. Bayangkan sudah 350 tahun kita dijajah Belanda! Another Indonesian character! Blame it on people!

Wednesday, January 27, 2010

“Pasaran, Taste-nya bagus, Ngga Level,” kata mereka

Banyak orang yang ingin membedakan diri dari orang lain. Contoh pertama adalah saya sendiri. Kedua, sepupu saya. Ketiga, teman lama yang tidak ingin dihubungi saya lagi. Mulai dari pilihan musik, buku bacaan, cara berpakaian dan selera-selera lainnya yang sekiranya mempengaruhi pandangan orang lain atau sesuai dengan nilai pribadi.

Dan pada akhirnya semuanya mulai memuakkan saya, ada apa dengan kesamaan selera atau katakan yang lebih ekstrim menganut budaya populer?

Saya tidak malu menyanyikan Pussy Cat Dolls yang “Stick with You” atau produk lokal macam Kahitna karena memang lagu itu sesuai dengan warna vokal saya, walaupun ratusan juta wanita Indonesia mungkin menjadi groupie-nya. Dan saya berani meneriakkannya keras-keras walaupun saat itu saya sedang ber-gothic style misalnya.

Nanti jangan-jangan lama-lama orang sudah tidak ada yang berbahasa Indonesia dengan baik dan benar lagi, alasannya, tidak mau berbicara dengan bahasa yang sama dengan 200 juta orang lainnya. Sudah sinting rupanya.

Ada ungkapan klise bahwa sejarah itu berulang, saya tetap tidak dapat menduga sejarah masehi ke-berapa yang pertama kali mengusung ide “berbeda” ini. Atau memang egoisme manusia itu sendiri yang me-leading mereka untuk berbuat dan berpikir demikian.

Yah, intinya, saya sudah tidak terlalu sensitive-lah kalau ada yang bilang saya seperti cewek kebanyakan, apa yang salah dengan cewek kebanyakan? Yang perlu dicermati lebih dalam sebenarnya bukan apa pakaiannya, bagaimana selera musiknya tapi nilai apa yang mereka anut hingga mereka memilih bergaya gothic, atau mengapa mereka menilai Jack Allsopp lebih seksi daripada Justin Timberlake.

Buat saya Jack Allsopp lebih seksi karena musiknya bikin saya bergoyang. Menggairahkan hidup saya yang delapan jam stand by di depan monitor HP 1740 

Monday, December 28, 2009

Hati Saya = Fotografer Sejarah

Saya menemukan fungsi hati yang lain. Menurut saya sistem kerja hati seperti fotografer terlatih, membidik dari angle-angle tertentu. Hati orang bijak dapat dipastikan menyasar angle yang bagus, yang menguntungkan bagi si objek sasaran kemudian mempublikasikannya sehingga harumlah nama objek sasaran. Maaf saya ralat, bukankah belum tentu bidikan ini bijak? Kadang si bijak hanya terlalu naïf. Kalau memang objeknya tidak harum di dalam tapi mampu menebar keharuman di hampir semua orang kecuali orang-orang suspicious seperti saya, maka terkecohlah hati si bijak.

Angle-angle ini diambil tergantung karakter si pemilik hati. Hati saya? Well, saya akui hati saya seringkali dan cepat sekali membidik segala sesuatu yang negative, merasakan yang negative, menyerapnya dalam-dalam, merembet mengesalkan orang lain, baru berpikir di kemudian bahwa itu masalah saya bukan orang, jadi sungguh tidak pantas melimpahkannya kepada orang lain, terutama mereka yang terdekat.

Ada juga hati yang bekerja seperti infotainment mencari cela yang bisa menjadi booming, itu saja bisanya. Ada juga hati yang datar, anglenya seperti yang diambil fotografer-fotografer untuk korporasi, hanya lurus sesuai jalur. Fotografer jurnalis mungkin bagai hati yang tertantang untuk selalu meneliti mana angle terbaik, tentu saja makna terbaik di sini subjektif. Bisa terbaik bagi penikmat atau terbaik mewakili idealisme si fotografer.

Kalau saya bisa memilih, saya prefer memiliki hati yang bekerja bak fotografer sejarah/buku biografi, menangkap momen kelam dan bahagia si objek sasaran. Supaya selalu saya menyadari, setiap manusia punya cerita. Cerita itu, kadang hitam putih, kadang abu-abu tak terselesaikan, atau emas menyilaukan dan membencikan mata saya. Saya harap hati saya tidak hanya mengabadikan momen-momen itu tapi merumuskan formula yang tepat bagi saya, agar teka-teki hidup saya terpecahkan. Kepala saya lelah berpikir, mungkin saatnya hati membantu 

Note:
Saat saya menulis ini, saya tidak riset dulu apakah ada fotografer sejarah, tapi pas coba2 browsing, si google malah ngasih opsi: Mungkin maksud Anda history of photography. Membuat saya semakin malas untuk riset lebih jauh, maaf semua!

Cita-cita

Setiap orang punya cita-cita dalam hidupnya, atau kalau tidak punya cita-cita mungkin tepatnya tujuan hidup..
sejak delapan tahun yang lalu entah mendapat dorongan dari mana namun gagasan untuk menjadi seorang penulis nampaknya begitu kuat.
sekarang aku mengikuti workshop demi workshop, menjadi freelance reporter untuk sebuah majalah di Aussie sana, dan masih terus haus untuk menulis yang lain...

Cerita di Balik Cubicle

Mana tahu partisi bisa berbisik. Awalnya memang mengusik tapi lama-kelamaan akan kehilangan makna saat bisik-bisik tiada. Saya hidup di ruang baru selama sembilan jam, lima hari dalam seminggu. Namanya cubicle. Jauh lebih nyaman dari yang sebelumnya. Disini terasa ada kehidupan baru bernafaskan kekeluargaan.

Untuk seseorang yang individualis-autis memang harus beradaptasi di awal tapi tidak perlu waktu lama, saya sudah lebih dulu menikmatinya. Menikmati orang-orang mondar-mandir di depan cubicle saya.

Tulisan ini menggambarkan kehidupan di dalam cubicle nyda. Pagi hari akan ada obrolan pagi yang semangat membahas ini itu, orang-orang tetap akan berseliweran, ada yang melempar senyum, ada yang berjalan sambil mengekspresikan kekesalan yang ditahan, ada yang menyapa sekedarnya, ada yang memberikan pekerjaan tambahan, ada yang menawarkan kue bolu. Semuanya indah. Tampil mewakili diri sendiri. Dan riuh ramai tawa bernada baritone di ujung koridor, segerombol bapak-bapak berbicara ala pria, tertawa ala pria. Membuat kerinduan akan tempat ini menyerbu, sebelum waktu berpisah ditentukan.

Menjelang siang akan ada perkumpulan makan siang lengkap dengan gossip siang ini. Saya tidak bergabung di dalamnya. Saya hanya bagian kecil dari semesta cubicle ini. Tapi tetap menyenangkan dan selalu begitu. Tawa indah berurai. Bahkan diskusi ricuh pun dapat berubah menjadi tawa dan senyum. Doa saya cuma satu, semoga bukan semu.

Bilangan Fu dan Saya. Ada Cinta.

Akhirnya sejak dua minggu lalu saya selesai membaca Bilangan Fu. Saya kecewa karena Parang Jati mati, karena kematiannya melegalkan nilai yang saya pegang. Bahwa nurani tidak punya suara di dunia nyata. Orang-orang yang mampu bertahan adalah orang-orang seperti Yuda yang skeptis dan sinis. Idealisme ala malaikat seperti Parang Jati hanya sebuah cara elegan untuk menyiksa diri lalu mati. Walaupun saya banyak belajar untuk menghormati sesama juga dari Parang Jati. Belajar teori abu-abu dan tidak ada hitam putih di dunia ini.

Senang sekali saat menemukan bahwa post-modernisme cukup mendapat tempat dalam novel ini. Karena sudah sejak enam bulan lalu atau bahkan lebih, sejak saya membaca buku-buku teori analisis wacana atau bahkan framing serta esai-esai nyinyir dari Om Seno dan Goenawan Mohammad, saya men-cap diri saya sebagai bagian dari “gank of post-modernism”. Pikiran-pikiran yang saya pegang selama ini seakan dijabarkan dengan gamblang dalam novel yang terbagi menjadi tiga bagian ini, yakni Modernisme, Monoteisme, dan Militerisme.

Apa yang saya pikirkan mengenai hubungan dengan Tuhan, kekuasaan, people I live with, and place I live in cukup mendapat tempat dalam novel tersebut.

Suatu hari saya pernah bilang pada teman saya bahwa saya benci orang-orang militer karena mereka menurut saya cenderung sewenang-wenang dengan kekuasaan. Otot mereka lebih besar dari otak mereka. Lalu teman saya bilang saya naïf, saya berpendapat begitu karena saya tidak atau belum berkuasa, katanya. Mungkin ada benarnya juga. Namun selesai membaca novel ini ada perasaan lain terhadap militer, ada empati. Berbeda dengan saat selesai membaca novel Om Seno (Jazz, Perfume, and…), saat itu saya mengumpat militer. Rasanya seperti dikhianati kekasih yang protektif.

Selesai membaca Bilangan Fu, saran saya nonton The Lucky Ones. Bagi Anda pengumpat militer mungkin akan mendapat sudut pandang baru. Bukankah kita begitu dekat dengan istilah “kesempatan kedua” setelah lahir ke dunia yang terkontaminasi?