Monday, December 28, 2009

Cerita di Balik Cubicle

Mana tahu partisi bisa berbisik. Awalnya memang mengusik tapi lama-kelamaan akan kehilangan makna saat bisik-bisik tiada. Saya hidup di ruang baru selama sembilan jam, lima hari dalam seminggu. Namanya cubicle. Jauh lebih nyaman dari yang sebelumnya. Disini terasa ada kehidupan baru bernafaskan kekeluargaan.

Untuk seseorang yang individualis-autis memang harus beradaptasi di awal tapi tidak perlu waktu lama, saya sudah lebih dulu menikmatinya. Menikmati orang-orang mondar-mandir di depan cubicle saya.

Tulisan ini menggambarkan kehidupan di dalam cubicle nyda. Pagi hari akan ada obrolan pagi yang semangat membahas ini itu, orang-orang tetap akan berseliweran, ada yang melempar senyum, ada yang berjalan sambil mengekspresikan kekesalan yang ditahan, ada yang menyapa sekedarnya, ada yang memberikan pekerjaan tambahan, ada yang menawarkan kue bolu. Semuanya indah. Tampil mewakili diri sendiri. Dan riuh ramai tawa bernada baritone di ujung koridor, segerombol bapak-bapak berbicara ala pria, tertawa ala pria. Membuat kerinduan akan tempat ini menyerbu, sebelum waktu berpisah ditentukan.

Menjelang siang akan ada perkumpulan makan siang lengkap dengan gossip siang ini. Saya tidak bergabung di dalamnya. Saya hanya bagian kecil dari semesta cubicle ini. Tapi tetap menyenangkan dan selalu begitu. Tawa indah berurai. Bahkan diskusi ricuh pun dapat berubah menjadi tawa dan senyum. Doa saya cuma satu, semoga bukan semu.

No comments: